Lambang Paksi Buay Pernong

Lambang Paksi Buay Pernong
Kijang Melipit Tebing

Skala Brak, Asal Muasal Orang Lampung

Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.

Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Senin, 15 Desember 2008

Petuah Pun Edward Syah Pernong



Biji yang baik jatuh
ke laut jadi pulau

Saya ingin Sekala Beghak eksis. Eksistensinya betul-betul diakui. Terutama dalam membina kebudayaan dan peradaban. Karena saya lihat salah satu hal yang sangat signifikan membangun bangsa, character building, adalah keberadaban manusia. Manusia yang beradab.

49 komentar:

guwaYBettik mengatakan...

Assalamu'alaikum

Tabikpun jama Pusskam,sai nyandang adok saibatin,kattu wad salah cakha,sikam jo cikhik galing ngakilu bimbingan juga.

Mikhak khasani ngaliak pekkon nulun wad istana,adat ti jaga budaya tijunjung,lunik hati lunik pengkhasa takhu di tanoh lappung babah, kidang nyellang ditengah tengah suku bakhih,cawa mak ngeddok lawan,induh kik ano alamat budaya lappung haga lebbon kodo PUN.

Mawad kik banjekh jak doh,kattuya humakha naku tulung,na khanno da PUN hakhapan sikam cikhik galing kabanjo,kutti khuppok say mejjong dunggak, say jadi tutukan sikam.

Pun mengatakan...

Psikam ngucak ko trimakasih, atas sumbang saran kuti khupok, kham yakin khik pcaya, adat khik budaya tuttop ticacan sapai jemoh sawai. nekhima jg yu...

saliwa mengatakan...

assalamualaikum
tabik pai sikindua, jama sai batin tuhakhaja, katu wat salah cakha, pakhkilu bimbing mak bakhih ya.

balak kik khencaka, haga ngejunjung budaya, kakalau wat kang laya, sai khalis jak tuha khaja, anjak sikam mahasiswa lampung barat sai wat di jogja, sai batin do tutukan mak bakhih ya.

ki sikindua ngasi ngekhasa,
nekham do sai haga berjaya, paksi pak palas budaya, sikam junjung jejama. tabik pun

saliwa mengatakan...

assalamu alaikium
tabikpun sikindua, kitu bang salah cakha, mak patut di kahaga, pakhkilu bimbing mak bakhih na.

mubalak kik khencaka, haga ngejunjung budaya, kakalau wat khanglaya, sai khalis anjak tuha khaja, atas nama Mahasiswa lampung Barat sai di jogja, sai batin sikam tutuk mak bakhih ya.

kik ngasi sikindua ngekhasa, makngedok bakhih sai haga berjaya,
kitu paksi pak no budaya, sikam junjung jama-jama. tabik PUN

pun mengatakan...

Saliwa, silahkan menghubungi (0274)377034, atau sms ke 08157951488, Bpk Sholeh Sriwijaya Anom agar bisa mewujudkan kecintaan Anda pada budaya Saibatin

PAKSI BUAY BEJALAN DIWAY mengatakan...

Tabikpun pehaguk Suntan Beliauan say nyuncun Makhga Pernong! Sekindua sanak khantau anjak Kembahang Tuha tikham khasa diJaya'ni Makhga, nyuba usaha ngehimpun cutik Sejarah jama Budaya Nekham diwikipedia, kilu bimbing kik salah dikhekhika khik cakha! Lanjutni jak ija sekindua haga ngeni saran pehaguk beliauan, yadodia ngehimpunko Sejarah Paksi Pak Nekham dilom buku, sebagai acuan autentik Sejarah, Budaya, Silsilah khik Adat Kepaksian Nekham, terutama bagini Generasi Sekala Brak khususni khik Generasi Lampung selanjutni! Khanodia jak sekindua, kilu mahap kik salah cakha!
Tabik....

paksibejalandiway.blogspot.com

poerwanto mengatakan...

saya r.poerwanto katame teman lamamu meipit tebing baik waktu di yogya maupun di jakarta ancol dan cinere tapi sekarang jadi terputus karena susah dihubungi maka dalam kesempatan ini saya ingin membangun silaturahmi kembali ;oleh karena itu saya berharap besar paling tidak pada acara walimah anak saya mohammad halimaya besok bulan maret di bandung yang sedianya juga mau dihadiri sensei indra kartasasmita ; semoga tulisan ini bisa menyambung tali silatu rahim kembali amien '
wassalam

email/tlp: r.poerwanto@gmail.com/085216716722

mataram-keris mengatakan...

Selamat Ulang Tahun ke 51

27 Januari 1958-27 Januari 2009

Pangeran Edward Syah Pernong, SH
Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi yang Dipertuan
Sekala Beghak XXIII

Semoga beliau dapat meneruskan sejarah Raja-raja pendahulunya dan diperhitunggal sebagai Raja Nusantara sebagaimana Raja Yogya, Solo, Cirebon, Gowa,dll.
Tidak kalah pentingnya adalah mengali sejarah budaya raja Lampung baik ajaran,petuah dan seni tradisionalnya

www.sigitkeris.multiply.com

heikal mengatakan...

ass. Yang kami muliakan sultan edward,.. Kami sekeluarga besar alm H M Arief mengucapkan selamat atas terpilihnya sultan sebagai kapolwiltabes semarang, semoga sultan dapat mengemban tugas negara dengan baik, sukses selalu untu sultan.. Wass. Heikal - sukarame

Anonim mengatakan...

Yth. Pun Edwarsyah Pernong

Assalamualaikum

Salam kenal Pun Edwar.
Mengenai sejarah budaya lampung saya sangat tertarik sekali. Namun terkadang apa yang dibaca kalau bukan dari sumber yang tepat bisa menyesatkan. Seandainya ada cerita lengkapnya, tentunya dalam bahasa indonesia sangat bermanfaat khususnya bagi saya.

Mungkin Pun Edwar ada saran?

Terimakasih atas perhatian dan kesepatannya.

http://gumuntur.wordpress.com/
http://koran-lampung.com/
http://gardautamasecurity.blogspot.com/

Anonim mengatakan...

SANG BUMI RUWA JURAI
( SATU BUMI DUWA GARIS KETURUNAN )
jika memang ada keratuan skala brak apakah nama keratuan yang satunya, dimanakah letak kedua Keratuan tersebut dan siapakah pemimpin di kedua Keratuan saat ini?
mohon penjelasannya ...

Sai Batin Paksi Buay Pernong mengatakan...

Sang bumi ruwa jurai merupakan konsep berdirinya propinsi lampung tahun 1964.
Sebenarnya satu jurai satu bumi, hanya ada dua tradisi adat yg mengental yaitu kesaibatinan dan kepenyeimbangan.

Anonim mengatakan...

ferly buay subing Says: Your
saya dari buay subing anak keratuan di puncak (minak rio begeduh) yg merupakan ratu tertua setelah ratu di pugung (minak rio pallang), ratu di belalaw(minak rio belunguh) dan ratu di pemanggilan(minak rio Sengaji)

tabik pun nabik tabik
gham hrs lurus di lem sejarah
ijo rasan mak lunik
awas katu dapek tullah

lain agow besaing
gham nyawoke sai lurus
weghen mato kucing
mak dapek cappang tikus

keratuan belalaw(minak rio belunguh) adalah keratuan yg diamanatkan oleh keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan…..untuk menjaga wilayah sekala beghak serta benda2 pusaka yang berupa pepadun dari lemasa kepappang, lunjuk dari pohon ara, bekasam siamang putih dalam gentong dan barang2 lainnya…..ketika tiga keratuan berencana hijrah ke daerah lain utk memperluas wilayah dengan menduduki wilayah baru...

Keratuan di belalaw menurunkan empat orang anak yang bernama :
1. Sai belunguh
2. Sai Teregak
3. Sai Murata
4. Sai Nyerupa….

jadi yang mana diantara keempat orang ini yg punya nama pernong…...?

dari keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan mengamanatkan wilayah dan barang2 pusaka kepada turunana ratu di belalaw(minak rio belunguh) yg anak tertuanya adalah Sai belunguh…..itu ditandai oleh sebuah gentong yg berisi bekasam dari siamang putih yg tdk boleh di buka selain empat keturunan keratuan ini berkumpul kembali di sekala behak……dan sebutann paksi hanya diberikan kepada para panglima perang...…yg posisinya di bawah keratuan/kedatu-an dan berada diatas hulu balang..keterangan sebagai berikut:

Ke-Datu-an/Ke-ratu-an :
1. Datu di Puncak(minak rio begeduh)
2. Datu di Pugung9minak rio palang)
3. Datu di Belalaw(minak rio belunguh)
4. Datu di Pemanggilan( minak rio sangaji)

empat kedatuan inilah asal muasal suku Lampung...

Paksi empat Tukket Pedang:
1. Appu kesaktian (panglima datu di puncak)
2. Appu kuasa (panglima datu di Pugung)
3. Appu Serata dilangit (panglima di belalaw)
5. Appu Pandek Sakti(panglima di pemanggilan)

hulu balang empat :
1. Sang putra lima
2. Sang pulagai
3. sang balai kuang
4. sang gariha

jadi itulah kedudukannya…..dalam sejarah sekala beghak....pada http//:paksipernong.com pada alinea 14 baris terakhir.. anda menuliskan bahwa seolah2 abung siwo migo yang beradat pepadun bukan orang lampung dan mengganggap dari suku lain....
apakah tidak takut kualat…...?

karena abung siwo migo turun dari datu/ratu dipuncak yg tertua dari 3 ratu/datu lainnya yaitu : datu di pugung, datu di belalaw dan datu di Pemanggilan…...dan adat istiadat lampung tidak mengenal kerajaan tapi Kepunyimbangan baik pepadun maupun sebatin…....
pepadun (singgasana padu) yg berarti sepakat adalah milik bersama 4 kedatuan yg di pakai untuk menobatkan para pemimpin dari masing2 kedatuan dan keturunannya... pemimpin bukan raja tapi penyimbang atau sebatin sebagai tetua pemegang adat yang dihormati...

silahkan kebuayan anda membuat adat sendiri dan kerajaan sendiri tapi jangan membelokkan sejarah dan membuang keturunan dari keratuan/kedatuan yang lain yang pernah ada di sekala beghak....

hati2 kualat…...
kualat dapat dalam bentuk bencana apapun...

sebentar lagi saudara2 kami dari turunan ratu/datu di pugung dan datu/ratu pemanggilan yang meliputi pubian telu suku (pesisir timur, tengah dan utara dan 5 sumbay way kanan akan menyusul mengomentari blog ini..

dari:
Abung siwo migo (nunnyai, unyi, nuban, subing, bulan, beliyuk, selagai, kunang dan anak tuho) turunan Datu/ratu di Puncak...

Anonim mengatakan...

ferly buay subing Says: Your
saya dari buay subing anak keratuan di puncak (minak rio begeduh) yg merupakan ratu tertua setelah ratu di pugung (minak rio pallang), ratu di belalaw(minak rio belunguh) dan ratu di pemanggilan(minak rio Sengaji)

tabik pun nabik tabik
gham hrs lurus di lem sejarah
ijo rasan mak lunik
awas katu dapek tullah

lain agow besaing
gham nyawoke sai lurus
weghen mato kucing
mak dapek cappang tikus

keratuan belalaw(minak rio belunguh) adalah keratuan yg diamanatkan oleh keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan…..untuk menjaga wilayah sekala beghak serta benda2 pusaka yang berupa pepadun dari lemasa kepappang, lunjuk dari pohon ara, bekasam siamang putih dalam gentong dan barang2 lainnya…..ketika tiga keratuan berencana hijrah ke daerah lain utk memperluas wilayah dengan menduduki wilayah baru...

Keratuan di belalaw menurunkan empat orang anak yang bernama :
1. Sai belunguh
2. Sai Teregak
3. Sai Murata
4. Sai Nyerupa….

jadi yang mana diantara keempat orang ini yg punya nama pernong…...?

dari keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan mengamanatkan wilayah dan barang2 pusaka kepada turunana ratu di belalaw(minak rio belunguh) yg anak tertuanya adalah Sai belunguh…..itu ditandai oleh sebuah gentong yg berisi bekasam dari siamang putih yg tdk boleh di buka selain keturunan empat keratuan ini berkumpul kembali di sekala behak……dan sebutann paksi hanya diberikan kepada para panglima perang...…yg posisinya di bawah keratuan/kedatu-an dan berada diatas hulu balang..keterangan sebagai berikut:

Ke-Datu-an/Ke-ratu-an :
1. Datu di Puncak(minak rio begeduh)
2. Datu di Pugung9minak rio palang)
3. Datu di Belalaw(minak rio belunguh)
4. Datu di Pemanggilan( minak rio sangaji)

empat kedatuan inilah asal muasal suku Lampung...

Paksi empat Tukket Pedang:
1. Appu kesaktian (panglima datu di puncak)
2. Appu kuasa (panglima datu di Pugung)
3. Appu Serata dilangit (panglima di belalaw)
5. Appu Pandek Sakti(panglima di pemanggilan)

hulu balang empat :
1. Sang putra lima
2. Sang pulagai
3. sang balai kuang
4. sang gariha

jadi itulah kedudukannya…..dalam sejarah sekala beghak....pada http//:paksipernong.com pada alinea 14 baris terakhir.. anda menuliskan bahwa seolah2 abung siwo migo yang beradat pepadun bukan orang lampung dan mengganggap dari suku lain....
apakah tidak takut kualat…...?

karena abung siwo migo turun dari datu/ratu dipuncak yg tertua dari 3 ratu/datu lainnya yaitu : datu di pugung, datu di belalaw dan datu di Pemanggilan…...dan adat istiadat lampung tidak mengenal kerajaan tapi Kepunyimbangan baik pepadun maupun sebatin…....
pepadun (singgasana padu) yg berarti sepakat adalah milik bersama 4 kedatuan yg di pakai untuk menobatkan para pemimpin dari masing2 kedatuan dan keturunannya... pemimpin bukan raja tapi penyimbang atau sebatin sebagai tetua pemegang adat yang dihormati...

silahkan kebuayan anda membuat adat sendiri dan kerajaan sendiri tapi jangan membelokkan sejarah dan membuang keturunan dari keratuan/kedatuan yang lain yang pernah ada di sekala beghak....

hati2 kualat…...
kualat dapat dalam bentuk bencana apapun...

sebentar lagi saudara2 kami dari turunan ratu/datu di pugung dan datu/ratu pemanggilan yang meliputi pubian telu suku (pesisir timur, tengah dan utara dan 5 sumbay way kanan akan menyusul mengomentari blog ini..

dari:
Abung siwo migo (nunnyai, unyi, nuban, subing, bulan, beliyuk, selagai, kunang dan anak tuho) turunan Datu/ratu di Puncak...

Diandra Natakembahang mengatakan...

Puakhi Ferly Buway Subing, Kita sudah sama sama sepakat bahwa Kita berasal dari Anjak Lambung dataran tinggi Sekala Brak Gunung Pesagi dan Nenek moyang Kita adalah Suku Tumi, namun demikian setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung keturunan Umpu Ngegalang Paksi yang menyebarkan Agama Islam pada akhirnya terbentuklah Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam.

Soal versi Nama dan Cerita Pelaku Sejarah bisa saja sedikit berbeda tergantung Penutur dan Penulis Tambo. Keempat Putra Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Lapah Di Way, Umpu Nyerupa, Umpu Belunguh dan Umpu Pernong, dan Putri Bulan yang bertemu di Sekala Brak [Menurut Tambo Paksi Pak Sekala Brak] sedangkan menurut Manuskrip Kuntara Raja Niti nama keempat Umpu diatas hanyalah gelar sedangkan nama yang sesungguhnya adalah berturut turut adalah Inder Gajah [Umpu Bejalan Diway], Sikin [Umpu Nyerupa], Belunguh [Umpu Belunguh] dan Pak Lang [Umpu Pernong] serta Indarwati [Putri Bulan] yang memang asli Sekala Brak [Prof Hilman Hadikusuma, Adat Istiadat Lampung, 1983] dan satu lagi Umpu Benyata yang disebut juga Buway Anak Mentuha atau Buway Anak Tuha yang juga asli Sekala Brak. Jadi menurut hemat Saya versi cerita bisa saja sedikit berbeda namun jelas didapat benang merah tentang Sejarah Kita asal usul Ulun Lampung.

Sudah jelas bahwa Pepadun yang pertama kali dibuat berasal dari Belasa Kepampang yang ditebang Paksi Pak untuk Singgasana bagi penobatan Sultan keempat Paksi yang kemudian berkembang diwilayah Lampung lainnya dengan meniru tradisi ini. Belasa Kepampang yang merupakan pohon yang diagungkan Suku Tumi ditebang oleh Paksi Pak yang merupakan pertanda berakhirnya masa Sekala Brak Hindu dan Bangkitnya Paksi Pak Sekala Brak Islam. Pepadun Belasa Kepampang inipun saat ini masih ada di Sekala Brak Lampung Barat di Kepaksian Belunguh [sampai disini Saya rasa tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi]

Kemudian soal perpindahan Warga Negeri Sekala Brak sebenarnya telah dimulai dari zaman Sekala Brak Hindu [Suku Tumi] hingga masa Paksi Pak Sekala Brak Islam. Bahkan seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering [Arlan Ismail:2003]

Menilik filosofi air yang mengalir dari hulu ke hilir dengan sangat jelas sekali bahwa Kebuwayan Kebuwayan di Lampung adalah berasal dari Sekala Brak seperti Buway Nyerupa Lampung Tengah berasal dari Paksi Nyerupa-Sukau , Buway Belunguh Tanggamus berasal dari Paksi Belunguh-Kenali, Buway Bulan Tulang Bawang berasal dari Buway Bulan-Cenggighing [Kesemuanya ada di Sekala Brak] dan semua ini bisa ditelusuri jejak asal usul dan silsilahnya. Sedangkan keturunan Abung Siwo Mego sebagian dari sembilan Buway adalah merupakan keturunan dari Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak dari Kepaksian Bejalan Di Way yang merupakan keturunan ketiga dari silsilah Umpu Bejalan Di Way yaitu saudara dari Kun Tunggal Simabang Negara yang menjadi Sultan di Kepaksian Bejalan Di Way. Menurut Tambo Paksi Bejalan Di Way Ratu di Puncak berpindah dan keluar dari Sekala Brak pertama kali menempati Canggoh Gaccak di Bukit Kemuning sebelum meneruskan Jurainya dan menjadi Abung Siwo Mego.

Paksi Pak Sekala Brak sendiri berbentuk federasi dengan empat daerah otonom yang masing masing diperintah oleh Sultan Paksi yaitu Paksi Bejalan Di Way, Paksi Nyerupa, Paksi Belunguh dan Paksi Pernong [Jadi Paksi Pernong adalah bagian dari Perserikatan Paksi Pak Sekala Brak]. Paksi Pak berrarti Empat Sepakat dan mempunyai motto Bersatu tidak bersekutu, Berpisah tidak bercerai.

Puakhi Ferly Buway Subing silahkan kunjungi http://paksibejalandiway.blogspot.com/ Saya siap berdiskusi bahkan tentang asal usul kata "Lampung", arti kata "Buway" dan bahkan "Pepadun" yang pertama.

Terima kasih, Tabik.....

Diandra Natakembahang mengatakan...

Puakhi Ferly Buway Subing, Kita sudah sama sama sepakat bahwa Kita berasal dari Anjak Lambung dataran tinggi Sekala Brak Gunung Pesagi dan Nenek moyang Kita adalah Suku Tumi, namun demikian setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung keturunan Umpu Ngegalang Paksi yang menyebarkan Agama Islam pada akhirnya terbentuklah Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam.

Soal versi Nama dan Cerita Pelaku Sejarah bisa saja sedikit berbeda tergantung Penutur dan Penulis Tambo. Keempat Putra Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Lapah Di Way, Umpu Nyerupa, Umpu Belunguh dan Umpu Pernong, dan Putri Bulan yang bertemu di Sekala Brak [Menurut Tambo Paksi Pak Sekala Brak] sedangkan menurut Manuskrip Kuntara Raja Niti nama keempat Umpu diatas hanyalah gelar sedangkan nama yang sesungguhnya adalah berturut turut adalah Inder Gajah [Umpu Bejalan Diway], Sikin [Umpu Nyerupa], Belunguh [Umpu Belunguh] dan Pak Lang [Umpu Pernong] serta Indarwati [Putri Bulan] yang memang asli Sekala Brak [Prof Hilman Hadikusuma, Adat Istiadat Lampung, 1983] dan satu lagi Umpu Benyata yang disebut juga Buway Anak Mentuha atau Buway Anak Tuha yang juga asli Sekala Brak. Jadi menurut hemat Saya versi cerita bisa saja sedikit berbeda namun jelas didapat benang merah tentang Sejarah Kita asal usul Ulun Lampung.

Sudah jelas bahwa Pepadun yang pertama kali dibuat berasal dari Belasa Kepampang yang ditebang Paksi Pak untuk Singgasana bagi penobatan Sultan keempat Paksi yang kemudian berkembang diwilayah Lampung lainnya dengan meniru tradisi ini. Belasa Kepampang yang merupakan pohon yang diagungkan Suku Tumi ditebang oleh Paksi Pak yang merupakan pertanda berakhirnya masa Sekala Brak Hindu dan Bangkitnya Paksi Pak Sekala Brak Islam. Pepadun Belasa Kepampang inipun saat ini masih ada di Sekala Brak Lampung Barat di Kepaksian Belunguh [sampai disini Saya rasa tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi]

Kemudian soal perpindahan Warga Negeri Sekala Brak sebenarnya telah dimulai dari zaman Sekala Brak Hindu [Suku Tumi] hingga masa Paksi Pak Sekala Brak Islam. Bahkan seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering [Arlan Ismail:2003]

Menilik filosofi air yang mengalir dari hulu ke hilir dengan sangat jelas sekali bahwa Kebuwayan Kebuwayan di Lampung adalah berasal dari Sekala Brak seperti Buway Nyerupa Lampung Tengah berasal dari Paksi Nyerupa-Sukau , Buway Belunguh Tanggamus berasal dari Paksi Belunguh-Kenali, Buway Bulan Tulang Bawang berasal dari Buway Bulan-Cenggighing [Kesemuanya ada di Sekala Brak] dan semua ini bisa ditelusuri jejak asal usul dan silsilahnya. Sedangkan keturunan Abung Siwo Mego sebagian dari sembilan Buway adalah merupakan keturunan dari Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak dari Kepaksian Bejalan Di Way yang merupakan keturunan ketiga dari silsilah Umpu Bejalan Di Way yaitu saudara dari Kun Tunggal Simabang Negara yang menjadi Sultan di Kepaksian Bejalan Di Way. Menurut Tambo Paksi Bejalan Di Way Ratu di Puncak berpindah dan keluar dari Sekala Brak pertama kali menempati Canggoh Gaccak di Bukit Kemuning sebelum meneruskan Jurainya dan menjadi Abung Siwo Mego.

Paksi Pak Sekala Brak sendiri berbentuk federasi dengan empat daerah otonom yang masing masing diperintah oleh Sultan Paksi yaitu Paksi Bejalan Di Way, Paksi Nyerupa, Paksi Belunguh dan Paksi Pernong [Jadi Paksi Pernong adalah bagian dari Perserikatan Paksi Pak Sekala Brak]. Paksi Pak berrarti Empat Sepakat dan mempunyai motto Bersatu tidak bersekutu, Berpisah tidak bercerai.

Puakhi Ferly Buway Subing silahkan kunjungi http://paksibejalandiway.blogspot.com/ Saya siap berdiskusi bahkan tentang asal usul kata "Lampung", arti kata "Buway" dan bahkan "Pepadun" yang pertama.

Terima kasih, Tabik.....

Diandra Natakembahang mengatakan...

Puakhi Ferly Buway Subing, Kita sudah sama sama sepakat bahwa Kita berasal dari Anjak Lambung dataran tinggi Sekala Brak Gunung Pesagi dan Nenek moyang Kita adalah Suku Tumi, namun demikian setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung keturunan Umpu Ngegalang Paksi yang menyebarkan Agama Islam pada akhirnya terbentuklah Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam.

Soal versi Nama dan Cerita Pelaku Sejarah bisa saja sedikit berbeda tergantung Penutur dan Penulis Tambo. Keempat Putra Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Lapah Di Way, Umpu Nyerupa, Umpu Belunguh dan Umpu Pernong, dan Putri Bulan yang bertemu di Sekala Brak [Menurut Tambo Paksi Pak Sekala Brak] sedangkan menurut Manuskrip Kuntara Raja Niti nama keempat Umpu diatas hanyalah gelar sedangkan nama yang sesungguhnya adalah berturut turut adalah Inder Gajah [Umpu Bejalan Diway], Sikin [Umpu Nyerupa], Belunguh [Umpu Belunguh] dan Pak Lang [Umpu Pernong] serta Indarwati [Putri Bulan] yang memang asli Sekala Brak [Prof Hilman Hadikusuma, Adat Istiadat Lampung, 1983] dan satu lagi Umpu Benyata yang disebut juga Buway Anak Mentuha atau Buway Anak Tuha yang juga asli Sekala Brak. Jadi menurut hemat Saya versi cerita bisa saja sedikit berbeda namun jelas didapat benang merah tentang Sejarah Kita asal usul Ulun Lampung.

Sudah jelas bahwa Pepadun yang pertama kali dibuat berasal dari Belasa Kepampang yang ditebang Paksi Pak untuk Singgasana bagi penobatan Sultan keempat Paksi yang kemudian berkembang diwilayah Lampung lainnya dengan meniru tradisi ini. Belasa Kepampang yang merupakan pohon yang diagungkan Suku Tumi ditebang oleh Paksi Pak yang merupakan pertanda berakhirnya masa Sekala Brak Hindu dan Bangkitnya Paksi Pak Sekala Brak Islam. Pepadun Belasa Kepampang inipun saat ini masih ada di Sekala Brak Lampung Barat di Kepaksian Belunguh [sampai disini Saya rasa tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi]

Kemudian soal perpindahan Warga Negeri Sekala Brak sebenarnya telah dimulai dari zaman Sekala Brak Hindu [Suku Tumi] hingga masa Paksi Pak Sekala Brak Islam. Bahkan seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering [Arlan Ismail:2003]

Menilik filosofi air yang mengalir dari hulu ke hilir dengan sangat jelas sekali bahwa Kebuwayan Kebuwayan di Lampung adalah berasal dari Sekala Brak seperti Buway Nyerupa Lampung Tengah berasal dari Paksi Nyerupa-Sukau , Buway Belunguh Tanggamus berasal dari Paksi Belunguh-Kenali, Buway Bulan Tulang Bawang berasal dari Buway Bulan-Cenggighing [Kesemuanya ada di Sekala Brak] dan semua ini bisa ditelusuri jejak asal usul dan silsilahnya. Sedangkan keturunan Abung Siwo Mego sebagian dari sembilan Buway adalah merupakan keturunan dari Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak dari Kepaksian Bejalan Di Way yang merupakan keturunan ketiga dari silsilah Umpu Bejalan Di Way yaitu saudara dari Kun Tunggal Simabang Negara yang menjadi Sultan di Kepaksian Bejalan Di Way. Menurut Tambo Paksi Bejalan Di Way Ratu di Puncak berpindah dan keluar dari Sekala Brak pertama kali menempati Canggoh Gaccak di Bukit Kemuning sebelum meneruskan Jurainya dan menjadi Abung Siwo Mego.

Paksi Pak Sekala Brak sendiri berbentuk federasi dengan empat daerah otonom yang masing masing diperintah oleh Sultan Paksi yaitu Paksi Bejalan Di Way, Paksi Nyerupa, Paksi Belunguh dan Paksi Pernong [Jadi Paksi Pernong adalah bagian dari Perserikatan Paksi Pak Sekala Brak]. Paksi Pak berrarti Empat Sepakat dan mempunyai motto Bersatu tidak bersekutu, Berpisah tidak bercerai.

Puakhi Ferly Buway Subing silahkan kunjungi http://paksibejalandiway.blogspot.com/ Saya siap berdiskusi bahkan tentang asal usul kata "Lampung", arti kata "Buway" dan bahkan "Pepadun" yang pertama.

Terima kasih, Tabik....

Diandra Natakembahang mengatakan...

Satu hal lg anda menulis
"dari:
Abung siwo migo (nunnyai, unyi, nuban, subing, bulan, beliyuk, selagai, kunang dan anak tuho) turunan Datu/ratu di Puncak..."

Saya fikir ini salah karena Abung Siwo Mego adalah Subing, Nuban, Unnyi, Nunnyai, Kunang, Selagai, Beliyuk, Anak Tuha dan Nyerupa karena Bulan adalah adalah bagian dari Mego Pak Tulang Bawang yaitu Bulan, Umpu, Tegamoan dan Aji. Terima kasih.....

Anonim mengatakan...

Ass.wr.wb. tabik pun tabik senabik tabik jama sikindua
Suttan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi yang Dipertuan
Sekala Beghak XXIII, kantu wat salah cacak dilom buhasa sikam sebab sikam makkung biasa makai bahasa lappung pun...
saya adalah salah seorang yang sangat tertarik dengan adat budaya serta sejarah Lampung. Sampai saat ini dari tulisan-tulisan yang saya baca masih terdapat simpang-siur mengenai sejarah asal-usul Lampung, antara lain :
1. Mana yang lebih dahulu masa Keratuan 4 atau Kepaksian 4?
2. dimanakah kedudukan Buay Menyata dan Buay Turgak dalam Kepaksian 4? sebab didalam Tulisan A.Syafei/Buay Belunguh ditulis bahwa Buay Menyata dan Buay Turgak sangat dihormati dan dituakan dalam Kepaksian 4 bahkan didalam upacara adat pada zaman dahulu bila Paksi 4 berjalan maka Buay Menyata dan Buay Turgak berada didepannya..
3. kedudukan Buay Menyata sebagai anak Mentuha atau Anak Tuha? sebab bila diterjemahkan kedua kalimat tersebut memiliki pengertian yang berbeda..
4. Apakah sampai saat ini dalam upacara2 Kepaksian 4 masih ada Pengejongan (tempat) bagi Buay Bulan, Buay Menyata dan Buay Turgak seperti pada zaman dahulu?

Demikian pertanyaan saya, besar harapan saya dapat menemukan jawaban yang benar dalam kesempatan ini, atas jawabannya saya ucapkan terimakasih.

Harristov Aszadha mengatakan...

Diandra Natkembahang : Tabik pun tabik snabik tabik jama pusekam puari sikam Diandra Natakembahang...
apa yang disampaikan oleh saudara kita Andi ferly Buay Subing adalah benar, sebab dalam catatan dan pengetahuan kami bahwa pada waktu pembentukan Abung Siwo Migo di Gilas Buay Bulan ikut dan kedudukan pepadun Buay Bulan adalah nomor 5, namun demikian pada waktu itu sampai dengan pembntukkan kemargaan di Terbanggi Besar Buay Bulan tidak pernah hadir dalam upacara2 adat di Abung Siwo Migo sehingga kedudukan Buay Bulan pada waktu itu sering di ganti oleh Buay Nyerupo dan Buay Nuwat, oleh karenanya pada waktu itu disimpulkan oleh perwatin Abung Siwo Migo bahwa Kedudukan Buay Bulan di Abung Siwo Migo digantikan oleh Buay Nyerupo sampai dengan sekarang, sedangkan Buay Bulan sendiri membentuk persekutuan Mego Pak dimana pada tahun 1911 Buay Aji bergabung didalamnya..

Anonim mengatakan...

Aslm, puakhi sikam ji jak makhga way lima. Delom silsilah ne, sikam ketukhunan anjak buay semenguk sekala bekhak.. sikam kilu tanya jama puakhi, Api kedudukanne buay semenguk delom paksi pak? ulih wat cekhita bahwa buay semenguk si nukhun ko buay bulan, buay bulan si nukhun ko buay tergak khek menyata.. Api buay semenguk henji bagian anjak keratuan "tulang bawang" si wat hubunganne jama jekhma komekhing.. Tulung info ne.. salam kemuakhian anjak si kam di way lima-kedundung..

Anonim mengatakan...

Dalam buku The History of Sumatra karya The Secretary to the President and the Council of Port Marlborough Bengkulu William Marsdn 1779, diketahui asal-usul Penduduk Asli Lampung. Didalam bukunya William Marsdn mengungkapkan "If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…". "Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas.."
Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud danau tersebut ialah Danau Ranau. Mengenai penduduk yang mendiami Gunung Pesagi/Danau Ranau tsb. silahkan kunjungi: http://arkeologilampung.blogspot.com/2009/01/kota-lama-menggala-tulang-bawang-satu.html
yang dituturkan oleh seorang arkeolog (bukan cerita turun temurun)berdasarkan penemuan pecahan keramik abad ke-9 di beberapa situs sejarah di skala brak yang mengartikan bahwa daerah tsb. telah ditempati terlebih dahulu (kemungkinan besar orang ABUNG bukan Skala Brak) sebelum moyang dari pagaruyung (moyang skala brak) datang. Sedangkan kedatangan empat orang moyang skala brak dari pagaruyung (baru-baru ini di beberapa blog diubah menjadi 4 orang ulama dari "Samudra Pasai") menurut Oliver Sevin merupakan gelombang migrasi awal abad ke-14 pada masa pemerintahan Adityawarman. Keturunan Skala Brak memang benar ada, tetapi jangan langsung mengambil kesimpulan kalau Skala Berak merupakan cikal bakal orang lampung, menurut saya terlalu dini untuk mengambil keputusan yang belum jelas kebenarannya. Jika Keturunan Skla Brak merupakan keturunan Pagaruyung, bagaimana benang merahnya dengan masyarakat Pepadun??yang saya tahu adalah 4 keratuan di lampung yang menurunkan orang lampung sekarang, bukan 4 umpu dari pagaruyung, silahkan apabila masyarakat skala brak meng-amini bahwa kalian keturunan pagaruyung, silahkan membuat sejarah sendiri. Mengenai buay tertua di Tulang Bawang bukanlah Buay Bulan melainkan Buay Tegamo'an, dan Kerajaan Tulang Bawang punya silsilah dari dulu hingga sekarang, masih mengamalkan tradisi dan adat, tidak lenyap dari bumi lampung, masih ada keturunannya, masih ada peninggalan pusakanya.

Anonim mengatakan...

Sedikit memberikan referensi tentang Skala Brak sebagai asal usul orang lampung

1.Pada abad ke-berapakah kedatangan 4 umpu Skala Brak atau 4 ulama dari Pagaruyung yang meng-Islamkan "Buay Tumi" di Gunung Pesagi?apakah Pagaruyung sudah terlebih dulu memeluk Islam?perlu diketahui bahwa menurut Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ("Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina") yang ditulis oleh Tomé Pires pada tahun 1512-1515 mencatat dari ke-tiga raja Pagaruyung, hanya satu yang telah menjadi muslim sejak 15 tahun sebelumnya, dan Islam baru berkembang di pagaruyung kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan.

2.Apabila 4 umpu tersebut bukan berasal dari pagaruyung melainkan berasal dari Samudera Pasai,pada abad ke-berapakah Samudera Pasai berdiri? Kesultanan Samudera Pasai baru didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Malik al-Saleh pada sekitar tahun 1267 atau menurut keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh ,mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M).

Sekarang bagaimana dengan Tulang Bawang:
menurut History of Java-Nusantara http://www.scribd.com/doc/27818234/History-of-Java-Nusantara
menurut sejarahwan berdasarkan berita cina pada abad ke-5M (berarti kerajaan yang telah berdiri sebelum atau bertepatan dengan abad ke-5M) ada beberapa kerajaan kecil di Sumatera dan Jawa yaitu Tolomo (Tarumanegara),Topoteng(Galuh),Holing(Kalingga),Kantoli(Kendali/sebelum Sriwijaya ada),dan Tulang Pa Hwang yaitu Kerajaan Tulang Bawang di Lampung, jelas keliru sekali yang mengartikan Tulang Pa Hwang sebagai bahasa Hokkian yang merujuk kepada Skala Brak di Bukit Pesagi, dan di situ tidak menyebutkan adanya kerajaan kecil bernama "Skala Brak". Mengenai Buay Bulan/menggala yang berasal dari Paksi Pak Skala Brak mungkin saja benar, karena mungkin saja terjadi migrasi dari Skala Brak ke Tulang Bawang, yang jelas menurut saya Tuan Rio Mangkubumi yang menurunkan Minak Kemala Bumi yang menurunkan orang Pagardewa, Tuan Rio Tengah yang menurunkan orang menggala, dan Tuan Rio Sanak yang menurunkan orang Panaragan.

areginapernong mengatakan...

untuk saudaraku yang menanyakan tentang buay semenguk, perlu kami jelaskan saat ini bahwasanya ratu ngagalang paksi mempunyai 2 istri. dari istri pertama melahirkan umpu pernong, umpu nyerupa, umpu belungu, umpu bejalan diway. dari istri yang kedua memiliki 4 putera, bernama sigerok, sitambapura, sipetar, sikumabar. setelah selesai perang skala brak, penaklukan suku tumi, dan meninggalnya ratu sekarmong, dimana skala brak menjadi sebuah kerajaan yang dipimpin oleh 4 bersaudara, sebagai paksipak skala brak. maka 4 saudaranya yang lain setelah perhelatan besar di skala brak selesai kemenangan terhadap suku tumi, pasca peperangan besar tersebut, ke-4 bersaudara lainnya memohon untuk memperluas kebesaran skala brak dengan mencari negri baru kearaha matahari terbit, dengan sumpah setia tidak lepas dan tidak hilang hubungan tali persaudaraan dengan kakak-kakaknya dans audara-saudaranya yang ada di skala brak. setelah mereka menempati tempat2 yang ada di luar skala brak dari beberapa catatan hubungan itu memang selalu ada, baik saat perhelatan besar di skala brak, maupun kedatangan para keluarga-keluarga besar dari skala brak secara personal ditempat2 kediaman dari keturunan-keturunan dari sigerok, sitambakura, sipetar, sikumabar.

semenguk adalah merupakan bagian dari keturunan dari sitambakura. kemudian menyebar menjadi beberapa marga ataupun komunitas adat di lampung, dan masing2 mereka sudah memiliki catatan tersendiri tentang garis sejak mulai dari sitambakura.

dari sini terlihat hubungannya dengan kerajaan paksipak skala brak bahwasanya mereka masih memiliki hubungan satu darah karena sitambakura merupakan saudara dari paksipak-- sama2 putera umpu ratu ngagalang paksi dan berarti juga merupakan cucu umpu ratu mumelar paksi sebagai penguasa2 awal dari kerajaan paksipak skala brak.

adapun menyata pertama adalah kehadiran sibulan sebagai saudara angkatnya paksipak diberi tempat di daerah cenggiring dalam wilayah kepaksian pernong dan sibulan menerima kedudukannya sebagai suku balak dengan gelar raja, diaku sebagai saudara dengan kedudukan dengan sebutan kecintaan anak mentuha paksi dan dipercaya memegang perbendaharaan di skala brak. seluruh pakaian2 kebesaran kerajaan termasuk melasa kepampang diberikan kepercayaan untuk menyimpannya kepada sibulan dan keturunannya dengan amanat adat dapat menyimpan tidak dapat memakai.

pada saat beberapa generasi kemudian karena beberapa permasalahan yang terkait dengan kondisi alam keinginan untuk mencari negri lain diluar skala brak maka keturunan sibulan meninggalkan skala brak dan hak untuk menyimpan alat kebesaran paksipak skala brak yang selama ini dipercayakan kepada turunan sibulan yang bertempat tinggal di cenggiring, way nerima, dalam wilayah kepaksian pernong, sejak saat itu dialihkan kepada keturunan sinyata yang bertempat tinggal di kampung luas, daerah kenali. sinyata inilah yang juga meneruskan simbol adat yang diberikan kepada sibulan. beberapa nama2 yang muncul dalam garis sinyata antara lain pemuka bulan bagha , pemuka ngeghilomi, menunjukkan saat mereka menerima amanah yang dipercayakan oleh paksipak kepada sibulan dan kemudian diturunkan kepada sinyata dan keturunannya, keturunan sinyata masih belum mendapatkan kedudukan adat, sebagaimana sibulan. nama buway nerima adalah merupakan sebuah simbol dan pesan sejarah bagaimana sibulan menerima kedudukannya bertempat tinggal di cenggiring terletak di kepaksian pernong, dan menerima amanah dari paksipak sebagai pemegang alat kebesaran paksipak.

areginapernong mengatakan...

untuk saudaraku yang menanyakan tentang buay semenguk, perlu kami jelaskan saat ini bahwasanya ratu ngagalang paksi mempunyai 2 istri. dari istri pertama melahirkan umpu pernong, umpu nyerupa, umpu belungu, umpu bejalan diway. dari istri yang kedua memiliki 4 putera, bernama sigerok, sitambapura, sipetar, sikumabar. setelah selesai perang skala brak, penaklukan suku tumi, dan meninggalnya ratu sekarmong, dimana skala brak menjadi sebuah kerajaan yang dipimpin oleh 4 bersaudara, sebagai paksipak skala brak. maka 4 saudaranya yang lain setelah perhelatan besar di skala brak selesai kemenangan terhadap suku tumi, pasca peperangan besar tersebut, ke-4 bersaudara lainnya memohon untuk memperluas kebesaran skala brak dengan mencari negri baru kearaha matahari terbit, dengan sumpah setia tidak lepas dan tidak hilang hubungan tali persaudaraan dengan kakak-kakaknya dans audara-saudaranya yang ada di skala brak. setelah mereka menempati tempat2 yang ada di luar skala brak dari beberapa catatan hubungan itu memang selalu ada, baik saat perhelatan besar di skala brak, maupun kedatangan para keluarga-keluarga besar dari skala brak secara personal ditempat2 kediaman dari keturunan-keturunan dari sigerok, sitambakura, sipetar, sikumabar.

semenguk adalah merupakan bagian dari keturunan dari sitambakura. kemudian menyebar menjadi beberapa marga ataupun komunitas adat di lampung, dan masing2 mereka sudah memiliki catatan tersendiri tentang garis sejak mulai dari sitambakura.

dari sini terlihat hubungannya dengan kerajaan paksipak skala brak bahwasanya mereka masih memiliki hubungan satu darah karena sitambakura merupakan saudara dari paksipak-- sama2 putera umpu ratu ngagalang paksi dan berarti juga merupakan cucu umpu ratu mumelar paksi sebagai penguasa2 awal dari kerajaan paksipak skala brak.

adapun menyata pertama adalah kehadiran sibulan sebagai saudara angkatnya paksipak diberi tempat di daerah cenggiring dalam wilayah kepaksian pernong dan sibulan menerima kedudukannya sebagai suku balak dengan gelar raja, diaku sebagai saudara dengan kedudukan dengan sebutan kecintaan anak mentuha paksi dan dipercaya memegang perbendaharaan di skala brak. seluruh pakaian2 kebesaran kerajaan termasuk melasa kepampang diberikan kepercayaan untuk menyimpannya kepada sibulan dan keturunannya dengan amanat adat dapat menyimpan tidak dapat memakai.

areginapernong mengatakan...

pada saat beberapa generasi kemudian karena beberapa permasalahan yang terkait dengan kondisi alam keinginan untuk mencari negri lain diluar skala brak maka keturunan sibulan meninggalkan skala brak dan hak untuk menyimpan alat kebesaran paksipak skala brak yang selama ini dipercayakan kepada turunan sibulan yang bertempat tinggal di cenggiring, way nerima, dalam wilayah kepaksian pernong, sejak saat itu dialihkan kepada keturunan sinyata yang bertempat tinggal di kampung luas, daerah kenali. sinyata inilah yang juga meneruskan simbol adat yang diberikan kepada sibulan. beberapa nama2 yang muncul dalam garis sinyata antara lain pemuka bulan bagha , pemuka ngeghilomi, menunjukkan saat mereka menerima amanah yang dipercayakan oleh paksipak kepada sibulan dan kemudian diturunkan kepada sinyata dan keturunannya, keturunan sinyata masih belum mendapatkan kedudukan adat, sebagaimana sibulan. nama buway nerima adalah merupakan sebuah simbol dan pesan sejarah bagaimana sibulan menerima kedudukannya bertempat tinggal di cenggiring terletak di kepaksian pernong, dan menerima amanah dari paksipak sebagai pemegang alat kebesaran paksipak.

mengapa alat kebesaran paksipak harus dipercayakan kepada sibulan? karena pada saat terbentuknya kerajaan paksipak skala brak yang diperintah oleh 4 bersaudara, dimana kedudukan 4 bersaudara berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. tidak ada yang boleh mengaku paling tua, mereka menjadi 4 sepakat, bagaikan sebuah federasi yang memerintah di wilayahnya masing-masing dengan prinsip satu tidak bersekutu, berpisah tidak bercerai. cumbung pak kelima sia, artinya 4 paksi yang dihanggumkan oleh buay nerima. kebesaran yang dilimpahkan kepada sinyata dan keturunanya sempat terjadi pergesekan dalam kekeluargaan yaitu dizaman belanda, dizaman raja bintang-- tetapi berdasarkan tulisan ratusan saksi dan keputusan 4 sultan yang memerintah di skala brak, pengadilan landrat memeberikan keputusannya pada saat itu karena diantara alat2 kebesaran termasuk pepadun melasa kepampang sebagai hal milik 4 paksi di skala brak yang memberikan hal milik yang sama terhadap melasa kepampang saat itu masih dipegang dari keturunan buay nerima yang kemudian diamanahkan kepada keturunan sinyata. keturunan sinyata inilah yang kemudian sekarang sering disebut sebagai buay menyata. sebetulnya di skala brak keubayan itu dipegang oleh paksi, karena kebuayan itu tidak hanya merujuk kepada garis gineakologis tetapi juga wilayah teritorial serta kebesaran adat yang menjadi identitas kebuayan. masing2 komunitas di masyarakat yang berasal dari kebuayan ini walaupun telah menjadi bagian daripada lingkungan2 adat tertentu mereka tetap merujuk asal dari skala brak, seandainya mereka masih mempunyai catatan, mereka menyetakan berasal dari kepaksian mana di skala brak. tetapi lepas dari itu semua dari kebuayan manapun mereka berasal mereka tetap merupakan suatu kesatuan utuh, karena 4 paksi skala brak adalah merupakan satu kesatuan utuh, sama2 putera dari ratu nagalang paksi dan sama2 keturunan dari ratu umpu gumelar paksi. adapun pepadun melasa kempampang saat ini disimpan digedung dalom kenali kepaksian belungu. penempatannya di gunung dalom kenali adalah berdasarkan kesepakatan dari 4 syaibatin paksipak skala brak saat itu yg didalam catatan disebutkan "untuk sementara ditempatkan di gedung dalom kenali." artinya keberadaan daripada melasa kepampang itu bukan milik satu paksi, tetapi keempat paksi, yang karena situasi pada saat itu saat jepang akan mulai masuk dan penuh dengan simpang siur berita sehingga karena adanya rasa kekhawatiran bersepakatlah 4 sultan dari paksipak skala brak untuk memindahkan penyimpanan melasa kepampang dari keturunan sinyata yang ada di pekon luas /kampung luas, dipindahkan ke gedung dalom kenali yang jaraknya lebih dekat dari kampung luas/ keturunan sinyata bertempat tinggal di kampung luas dalam wilayah kepaksian belunguh. dan sejak saat itu melasa kepampang sebagai milik paksipak disimpan digedung dalom kenali dikenali, belalau.

areginapernong mengatakan...

demikianlah sekelumit untuk memberi informasi, penjelasan, dan pelurusan istilah2 agar bisa dimengerti oleh seluruh komunitas adat skala brak.


terimakasih, maaf lahir batin, selamat berpuasa kepada seluruh minak muakhi sekalian. semoga Allah memberi perlindungan dan taufik&hidayah terhadap kita semua. jadilah adat ini sebagai pemersatu kita semua yang akan kita pertanggungjawabkan sebagai perekat silaturahmi kita yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah SWT. AMIN

Anonim mengatakan...

Keberadaan Buay Semenguk berasal dari keturunan Umpu Kuasa dalam Keratuan Sekala Brak setara dengan keberadaan Umpu Serata Dilangik (Buay Nuwat) dll, Pernikahan antara Umpu Kesaktian dengan anak bai Umpu Kuasa melahirkan Si Bulan yang kemudian melahirkan 2 anak perempuan dan 1 anak laki, anak perempuan tertua menurunkan buay BUlan, kemudian yag laki-laki menurunkan Naga Berisang, sedangkan anak perempuan yang bungsu menikah dengan Minak Rio Belunguh/Ratu di Belalau yang melahirkan Menyata dan Turgak, kemudian Minak Rio Belunguh menikah lagi dengan Sindi anak Ratu Sekarmong dan melahirkan Si Belunguh dan Nyerupa (cikal bakal Kepaksian Pak). demikian yang saya ketahui dari cerita turun temurun dan diyakini oleh masyarakat adat diwilayah kami.
kedepan mungkin perlu diadakan penelitian sejarah melalui kajian ilmiah dengan dasar dan bukti yang kuat mengenai asal-usul nenek moyang kita, wassalam.

Anonim mengatakan...

Buay semenguk itu keturunan UMPU LALAULA.. Raja pertama sekala berak kuno.. Ktrn2nya menyebar ke komering, way kanan, krui dan cukuhbalak..

Anonim mengatakan...

umpu kuasa buay semenguk bergelar 'ratu pesagi nyerupa', sedangkan putrinya dayang metika bergelar 'bidadari angsa' yg menikah dgn puyang sakti atau rakihan sakti.. Selain itu putra umpu kuasa diknl dgn ratu pemanggilan menikah dgn sepupunya ytu putri berdarah putih yg beranak BUAY SEDATU yg pindah ke krui krn ada pertikaian di pesagi th 1420M, mkn ke muara way balau /tenumbang.

Anonim mengatakan...

untuk buay tambakura dimungkinkan jg masih ktrn buay semenguk dari pihak perempuan.. Krn utk lampung pesisir /adat sebatin, perempuan yg mengambil suami dikenal dgn semanda, ktrnnya mengikuti pihak buay perempuan.. Tapi tidak mempunyai hak dlm adat jika masih ada saudara laki2 tertua... Jika hanya anak tgl baru boleh dgn cara mengambilkan suami.. Shg suaminya bergelar RATU..

Anonim mengatakan...

mohon maaf, ini koq sesama saudara saling mencari ke AKU an ya???
apakah tidak lebih baik duduk bersama guna saling meluruskan apa sebenarnya yg BENAR. jika saling beropini begini, alangkah malunya kita sebagai pemegang silsilah. ini dibaca seluruh dunia lho....
kasihan anak cucu kita nanti, akankah seumur hidup mereka anak cucu kita juga meretapi kegelapan sejarah... YUK MARI KITA BERKUMPUL. UNGKAP, BAHAS, CATAT DAN SEBARKAN KE SELURUH DUNIA... INILAH LAMPUNG SESUNGGUHNYA....

SALAM........

Anonim mengatakan...

Istri pertama dari Umpu belunguh/Umpu Ngegalang paksi/Ratu Di Belalaw yaitu nenek moyang Skala Brak sekarang merupakan keturunan Umpu Kesaktian (Rakehan Sakti) dan Dayang Metika Glr. Bidadari Angsa yaitu anak bai Umpu Kuasa Buay Semenguk Glr. Ratu Pesagi Nyerupa. Poyang Sakti/ Umpu Kesaktian (Rakehan Sakti) menikah dengan Dayang Metika Glr. Bidadari Angsa, Anak Bai Poyang/ Umpu Kuasa Buay Semenguk Glr. Ratu Pesagi Nyerupa. Dari perkawinan ini lahirlah 1 anak laki-laki dan 1 perempuan :

1. Poyang Junjungan Sakti ( menurunkan Naga Berisang --> Runjung-Tabu Gayau)
2. Puteri Indera Bulan --> menurunkan Puteri Bulan Bara yang kelak menikah dengan empu rakihan Glr. Ratu Di Belalaw/Umpu belunguh/Umpu Ngegalang paksi-nenek moyang Skala Brak

Dari pernikahan empu rakihan Glr. Ratu Di Belalaw/Umpu belunguh/Umpu Ngegalang paksi dengan puteri Bulan Bara jurai dari Puteri Indera bulan menurunkan : Buay Menyata dan Buay Turgak

Didalam perjanjian bahwa Buay Menyata dan Buay Turgak tidak ikut klan Empu Rakihan Glr. Ratu Di Belalaw/Umpu belunguh/Umpu Ngegalang paksi, tetapi ikut dalam klan ibunya yaitu Jurai Puteri Indra Bulan. Kemudian Empu Rakihan Glr. Ratu Di Belalaw/Umpu belunguh/Umpu Ngegalang paksi Kawin dengan Puteri Sindi anak dari Puteri Sekeghumong dan menetap di Ranji Pasai dekat Kenali. Dari perkawinan ini lahirlah :

1. Empu Belunguh
2. Empu Nyerupa
3. Empu Parenong
4. Empu bejalan Di Way

TEtapi menurut keterangan Pengikhan Syafei Kenali, Empu Pernong dan Empu Bejalan Di Way berasal dari Darmas Raya. Jadi empat Empu inilah merupakan cikal bakal Paksi Pak Skala Brak.

Marwansyah Warganegara
(TMII, Jakarta-1994)

pimfahri mengatakan...

Mohon konfirmasinya tentang ini:

http://tebinglampungtimur.blogspot.com/2010/08/asal-usul-suku-lampung.html

disini disebutkan bahwa menurut keterangan Pangeran Syafei Kenali, Empu Parenong dan Empu Bejalan Di Wai berasal dari Darmas Raya. Jadi empat Empu inilah merupakan cikal bakal Paksi Pak Skala Brak. Sewaktu mendirikan Paksi Pak ini dihadiri utusan dari:
1. Buay Nunyai
2. Buay Unyi
3. Buay Subing
4. Buay Nuban
5. Buay Bulan
6. Buay Semenguk
7. Buay Nuwat
8. Buay Tumi
9. Buay Menyata
10. Buay Turgak
11. Buay Aji
12. Buay Sandang
13. Buay Rawan
14. Buay Runjung
15. Buay Pemuka

Ini menunjukkan bahwa Buay Semenguk menghadiri juga pendirian Paksi Pak Skala Brak.. Walau bagaimanapun semua ini adalah sejarah yang masih perlu kita telusuri kembali kebenarannya..

A. FAHRI, S.E.
Buay Semenguk Tiyuh Negeri Baru Way Kanan..

Anonim mengatakan...

Assalam.. Puakhi yang menanyakan tentang buay semenguk.. buay semenguk merupakan buay pertama yang memeluk islam di Sekala Bekhak.. Menurut beberapa tambo di belalau, buay semenguk keluaran dari buay tumi di pekon menguk bedudu belalau yang masih ada ikatan darah dengan Ratu Sekarmong.. Akan tetapi, setelah masuk islam buay ini banyak membantu dalam penyebaran agama islam bagi penduduk di sekala bekhak, terutama yang dilakukan oleh SEMENGUK MULANG HAJI.. Buay ini sebagai penengah pertikaian antara Paksi Pak (Umpu Belunguh)dengan Ratu Sekarmong, terutama saat Ratu sekarmong terdesak di Bernasi lalu di ungsikan di wilayah buay semenguk di Jerambai bedudu.. Dalam satu sisi buay ini masih kerabat ratu sekarmong dan disisi lain mereka merupakan ulama penyebar islam.. Adapun di belalau dulu dikenal dengan nama "SEMENGUK PITU" yang terdiri dari : SEMENGUK HULU DALUNG, SEMENGUK HAMAKHADATU, SEMENGUK TUNDUN BELANG, SEMENGUK MULANG HAJI, SEMENGUK PATCAK AIT, SEMENGUK TAMBA KUKHA dan SEMENGUK HULU LUTUNG.. Keturunannya mendirikan keratuan dengan nama "KERATUAN BEDARAH PUTIH" dan marganya dikenal dengan sebutan MARGA PUTIH atau CUKUH BALAK sejak di SEKALA BEKHAK, sebagai penghormatan bagi ulama penyebar islam dari Buay Semenguk..

Anonim mengatakan...

Mengenai kedatangan Islam pertama kali,menurut kami bukan pada saat Paksi Pak (Umpu Belunguh) datang ke sekala bekhak.. Karena saat umpu belunguh datang, penduduk di sekitar sekala bekha yaitu di Liba Haji dan Ranau sudah memeluk islam.. Seperti di jelaskan pada sebuah tambo Buay Belunguh yg menyebutkan bahwa umpu belunguh bertemu dengn Umpu Sehujan dan Rakihan yang sudah masuk islam.. Dua umpu tersebut merupakan keturunan SEMENGUK MULANG HAJI di Ranau dan Liba Haji (Buay Aji, Haji atau Putih).. Termasuk seorang Putri bernama Putri Bedarah Putih di Mekekaw.. Ada sebagian pendapat orang menyatakan bahwa Putri Bedarah Putih adalah anak Ratu Sekarmong dari Suami yg berasal dari Buay SEMAENGUK MULANG HAJI.. Maka gelar "bedarah Putih" dilekatkan pada Putri tersebut yg bernama asli "Putri MAYANG".. Putri ini mempunyai kesaktian dapat menyembuhkan penyakit Cacar Air..

Anonim mengatakan...

Mengenai BUAY SEMENGUK TAMBA KUKHA, menurut catatan dalam bentuk "Papancokh" di daerah Way Lima menyatakan: Kedatangan Seorang Raja yang digelari "Raja Diwa" dari daerah Pagaruyung (Kemungkinan maksudnya adalah Daerah Jambi, Sisa dari Sriwijaya Jambi atau mungkin Keturunan Putri Sriwijaya yang menikah dengan Raja Jambi, Putri Nila Kendra) bernama "SANGHYANG SAKTI NYATA" (Apakah sama dg "UMPU DIWA SEBIJI NYATA?) tiba ke tanah Pugung.. Beranak 7 orang menjadi Raja di negerinya masing-masing.. Salah satu putranya bernama "UMPU KESAKTIAN JITU" menjadi "RATU" di "KUALA SAKHA" (Mungkin Maksudnya Keratuan Mura Way Saka Komering).. Beranak 12 Orang dari 2 Istri.. Salah Satu anaknya Bernama " UMPU HALOM" yang gagah perkasa dan sakti melebihi saudara lainnya, mempunyai 3 orang putra : HULU DALUNG, TAMBA KUKHA dan BELANG TUNDU.. HULU DALUNG Mempunyai kesaktian dalam Ilmu Peperangan dan Kebatinan, TAMBA KUKHA mempunyai kesaktian dalam menyembuhkan penyakit dan TUNDUN BELANG mempunyai kewibawaan dalam tutur kata (Kecacah khek Kebilang) sehingga menjadi seorang juru runding/penengah perselisihan.. Demikian kurang lebih informasi dari kami yang kami peroleh dari beberapa sumber.. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dalam menyusun "SEJARAH ASAL USUL NENEK MOYANG JELMA LAMPUNG".. Tidak meneutup kemungkinan masih banyak lagi sumber yang lain guna membantu mengukangkap "Mesteri Kerajaan Sekala Bekha yang Hilang Sebagai Bagian Titik Terang Kegelapan SRIWIJAYA".. Salam angkon muakhi jejama kham jelma lampung.. Tabik..

Anonim mengatakan...

Tambahan: Saudara dari UMPU HALOM yang menurunkan 3 Saudara (HULU DALUNG, TAMBA KUKHA dan TUNDUN BELANG) antara lain : SALAGAI, SEKHA, JAHIK, KHASAU, KHUKHING, BAMBAN dan LIYOH (bungsu)..

Dimungkinkan, SALAGAI menurunkan buay salagai abung siwo mego, SEKHA menurunkan buay SEKHA marga pertiwi cukuhbalak, BAMBAN di pugung krui dan LIYOH menurunkan Buay Liyoh Marga sabu Mananga Padang Cermin..

Salam Kemuakhian jejama kham lampung, mak bubida dipaya sai batin atau pun pepadun.. Dia ketukhunan ne lagi sai umpu..
Tabik..

Anonim mengatakan...

Buay Pernong berasal dari keturunan Umpu Pernong (Pernong asal kata "Pekhenung" yg artinya Perenung/pelamun).. Umpu pernong menjadi mantu di buay kanyangan (pekon cukuh balak/lunik, pekon balak dan pekon hajjai)setelah menikahi putri buay kanyangan.. sedangkan buay kanyangan adalah keturunan dari Umpu Resi Pandita Kanyangan (Hindu), yang notabene adalah Marga Cukuh.. Sedangkan sebagian dari penduduk buay kanyangan terutama dari pekon hajjai berasal dari belalau yang merupakan keturunan buay semenguk yang pindah ke Buay kanyangan.. Keturunan asli dari buay kanyangan (Marga Cukuh) bersama keturunan buay semenguk pindah ke Muara Way Tenumbang Krui dan melebur jadi satu.. Keturunan mereka ini yang kemudian pindah ke Cukuhbalak Tanggamus yang lebih dikenal dengan nama Samenguk Mukhadatu/Hamakhadatu (Tangan Kanan atau Penasehat Ratu Sekarmong).. Kemudian Datang menyusul keturunan dari pekon mandol yang disana dikenal dengan samanguk tamba kukha.. Kemungkinan Ada kaitan kisah dalam Novel "Perempuan Penunggang Harimau" dimana ada serorang hulubalang Ratu sekarmong memilih islam tetapi masih menghormati Ratu sekarmong dan keturunannya bernama "Menang Betengkakh", kemungkinan adalah keturunan samenguk Hulu Dalung... serta pasukan penyelamat yg berjubah hijau dan putih itu merupakan dari kalangan samenguk Mulang Haji (ulama buay semenguk)..

Anonim mengatakan...

Keluar sedikit dari tema. Saya mau tanya kenapa lambang siger yg jadi maskot lampung akhir2 ini jurai/ lekuknya berubah jadi 7, bukankah seharusnya 9.?? "Lanjut bro> di atas saudara Ferly buway subing mengatakan kalau keratuan belalau di beri amanat/ pesan oleh keratuan di puncak, keratuan di pugung & keratuan pemanggilan untuk dapat menjaga wilayah skala behak dan menjaga pepadun dari lemasa kepampang, lunjuk dari pohon ara, serta bekasam siamang putih dalam gentong. Setelah mengetahui ada yg wilayah & benda yg harus di jaga oleh kebuwaian d gunung pesagi saya jd teringat dgn prasasti hujung langit yg menurut peneliti sejarah isinya adalah perintah utk menjaga dan merawat suatu bangunan atau benda yg dianggap suci di situ. Jangan2 itulah maksud dari prasasti hujung langit. Mohon d koreksi kalau nama prasastinya salah. Tabik. Ikam Lampung Netral

Anonim mengatakan...

Tabik pai nutuk koment pai muneh nyak anjak Jabung lam-tim apak buway pemuko mak buway bulan. Menurut ikam masalah ijo sangon harus di bahas baghong2. Tentu ko tempatni undang unyin penyimbang & tokoh adat seluruh kebuwayan lappung baik sai wat lappung ataupun di luakh lappung gegoh puaghi kham komring jalma daya sai di sumse khik puakhi gam sai di cikoneng. Natti jugo ketahumman temon kudo di lampung wat sai raja di unggak keratuan2 sai bakheh. dan kalau musyawarah itu di lakukan kali2 aja bisa menyatukan kembali seluruh suku lampung(Tumi) sekalian ajak komring misah jak palembang dan gabung d provinsi lampung. goh ino pai gawoh masukan jak ikam. Pun Tabikno jamo kuti khuppok.

Anonim mengatakan...

Raja Betawang adalah suami Ratu Sekarmong sekaligus sepupunya, yang masih keturunan Semenguk... Dengan kata lain Keluarga Ratu Sekarmong dan Raja-Raja di atasnya (Raja Mucca Bawok, Raja Sangkan, dan mungkin Sampai Sri Hari dewa) adalah puyang-puyang Buay Semenguk Hindu (Tumi)...

Dalam beberapa bukti tertulis, Puyang-puyang Buay Semenguk Hindu (Tumi) banyak berhubungan dengan kerajaan Majapahit, Pajajaran bahkan Sriwijaya...

Anonim mengatakan...

Masuknya Puyang buay semenguk ke dalam agama islam, tentu tak terlepaskan atas pengislaman oleh Wali Putih di daerah Sriwijaya... Terlebih penguasa terakhir Sriwijaya (Si gentar alam/Parameswara) masuk islam di ikuti oleh beberapa petinggi Sriwijaya akhir, yang di kala itu ada yang pergi ke Jambi dan Melaka Malaysia... Maka tidak heran di sana ada teknik pengobatan yang hampir sama dengan yang ada di lampung (Buay Semenguk) yaitu dengan cara penyembuhan tulang patah dengan Minyak anak burung...

Anonim mengatakan...

Jadi jika pun ada Puyang Semenguk yang datang dari arah pagaruyung, kemungkinan itu adalah arah jalan pulang daratan dari jambi atau malaka malaysia menuju lampung kembali...

Maka ada nama Puyang Diwa Sebiji Nyata yang berasal (Pulang) dari Batanghari jabung Jambi...

Di Lampung beliau dikenal sebagai Puyang Sanghyang Sakti Nyata (Semaka) atau Puyang Sebuai Nyata (Belalau)..

Anonim mengatakan...

SEKALA BEKHAK MENGALAMI DUA ERA, YAITU ERA HINDU BUDHA DAN ERA ISLAM.
ERA HINDU BUDHA YAITU DARI SILSILAH PERTAMA SAMPAI KELIMA DI SEKALA BEKHAK, SEDANGKAN ERA ISLAM ATAU PAKSI PAK YAITU SEJAK KEDATANGAN UMPU BELUNGUH/ RATU NGEGALANG PAKSI/ RATU DIBELALAU PADA SILSILAH KELIMA [MASA PERALIHAN DARI PUYANG RAKIAN KE PUYANG RAJA PAKSI] DAN KEENAM DI SEKALA BEKHAK.
HAL INI SANGAT JELAS SEKALI, KARENANYA PAKSI BELUNGUH SILSILAHNYA SAAT INI BARU 16, SEMENTARA KETIGA PAKSI YANG LAIN SUDAH YANG KE 20.
DEMIKIANLAH BAHWA PEMBAGIAN WILAYAH KERATUAN LAMPUNG DI CANGOK GACCAK CAHYA NEGERI ADALAH MASIH PADA ERA HINDU BUDHA ATAU SEBELUM BERDIRINYA PAKSI PAK [SEBELUM KEDATANGAN UMPU BELUNGUH ATAU SILSILAH SATU SAMPAI LIMA DIKETIGA PAKSI LAINNYA]
TABIKPUN...

Anonim mengatakan...

ass, salam kemuaghian

Mohon informasinya mengenai hal ini:

disebutkan bahwa menurut keterangan Pangeran Syafei Kenali, Empu Parenong dan Empu Bejalan Di Wai berasal dari Darmas Raya. Jadi empat Empu inilah merupakan cikal bakal Paksi Pak Skala Brak. Sewaktu mendirikan Paksi Pak ini dihadiri utusan dari:
1. Buay Nunyai
2. Buay Unyi
3. Buay Subing
4. Buay Nuban
5. Buay Bulan
6. Buay Semenguk
7. Buay Nuwat
8. Buay Tumi
9. Buay Menyata
10. Buay Turgak
11. Buay Aji
12. Buay Sandang
13. Buay Rawan
14. Buay Runjung
15. Buay Pemuka

Diatas tertulis bahwa Buay Sandang, Buay Rawan, Buay runjung ikut menghadiri pembentukan paksi pak sekala beghak

yang ingin kami ketahui ialah apakah Buway-Buway tersebut merupakan buway yang terletak di daerah OKU selatan Muaradua sumsel yg memang diketahui masyarakatnya jg beradatkan saibatin dan memiliki seorang saibatin di masing2 kebuayanya seperti halnya buay-buay yang ada di lampung...

dan apakah hubungannya antara ke tiga buway tsb(Buay Sandang, Buay Rawan, Buay runjung) dengan paksipak sekala beghak?

Wass,Tabik
Toni, pemuda peduli lampung

Anonim mengatakan...

benar ketiga buay tersebut terletak di daerah muaradua dan beradatkan saibatin, sama halnya dengan di lampung, buay sandang, rawan,dan runjung masyarakat adatnya dipimpin oleh seorang saibatin bergelar Sutan.
yg membedakan hanya sekarang wilayahnya saja yang masuk dalam daerah sumsel.
Buay Sandang, Buay Rawan, Buay Runjung merupakan buay tua skala brak lama

Anonim mengatakan...

Puyang Rawan, Sandang, Runjung dan Sidul-dul adalah anak-anak dari MINAK SANGBALIKUANG... Sangbalikuang adalah putra dari PUYANG CACAT BECIT (CIT BECIT SAIDI SAKTI)... Puyang Cacat Becit adalah putra dari PUYANG CACAT GUCI (Raja Batusangkar Pagaruyung ke-2)... puyang cacat guci putra dari RAJA SELIBAR ALAM (Raja Batusangkar Pagaruyung ke-1, beliau adik dari RAJA SEKENDAR ALAM di Bukit Seguntang)... Raja Selibar alam putra dari RAJA DIWA GUMAI yang berjuluk NAGA BRISANG 1... Raja Diwa Gumai adalah Putra dari PUTRI SETUNGAU dgn Raja Bengkulu TUAN KEPALA JURAI... Putri Setungau sendiri adalah Putri tertua dari UMPU KESAKTIAN MENJITU (SE RANGGA SAKTI) dari istri pertamanya yaitu Putri Ranau... Umpu Kesaktian Menjitu yg lebih kenal dgn gelar RATU DI KUALA SAKHA adalah Putra ke-4 dari 7 putra SANGHYANG SAKTI NYATA dari Sriwijaya Jambi...Putra pertama dari Sanghyang Sakti Nyata adalah PUYANG SEMENGOK SAKTI yang bergelar RAJA SETEMU atau KAKHAI LUTUNG (keturunannya ada di Pengandonan Ogan, Menguk Belalau dan Cukuhbalak Tanggamus)... Sedangkan Dari Istri ke-2 Ratu Dikuala Sakha adalah Putri Belalau berputra 11 orang... Salah satu diantaranya adalah MPU HALOM (RAJA MAWANG atau RAJA LEMAWONG -> leluhur RATU SEKARMONG/SEHALIMAWONG)... Mpu Halom berputra 3 orang yaitu DALUNG SAKTI (RATU PESAGI), TAMBAKUKHA, dan BELANG TUNDUN... DALUNG SAKTI (RATU PESAGI) berputra RESI PANDITHA KAHYANGAN dan TUAN RAJA KUASA... RESI PANDITHA KAHYANGAN di tanah pasundan berjuluk RESI SUSUK LAMPUNG berputri yaitu PUTRI DEWI RANTA SARKATI atau LARASATI (LARA : Cantik dan SATI: Sakti -> Putri yg cantik dan sakti)... Beliau menikah dgn PRABU NISKALA WASTU KENCANA dan menurunkan PRABU SUSUK TUNGGAL dan SANG HALIWUNGAN... Salah satu di antara dua putranya inilah yang menajd ayah dari RATU SEKARMONG... RATU SEKARMONG bersuami UMPU BINAWANG atau RATU SEMINUNG... Sedangkan Untuk TUAN RAJA KUASA mempunyai anak yaitu Putri Dayang Mustika... Putri Dayang Mustika menikah dgn NAGA BRISANG 2 putra dari RAJA SEKANDAR ALAM (Raja di Bukit Seguntang) bin RAJA DIWA GUMAI (NAGA BRISANG 1)... Maka Lahirlah seorang putri bernama PUTRI INDRAWATI... Dari Putri Indrawati inilah yang menurunkan MAKDUM SEMULA SAKTI dan MAKDUM SEMULA JADI... Sampai keturunanya antara lain PUTRI BULAN NEKHIMA, MENYATA dan TERGAK... Baru pada generasi berikutnya datanglah para umpu PAKSI PAK menjadi menantu (semanda) di negeri2 dari keturunan MPU SEJAMBAK, SETAMBAK, SETEGI dan SEJADI... Jadi salah besar jika kita masih beranggapan nenek muyang lampung dari Suku Tumi yang "mak jelas" asal usulnya... Penamaan Suku Tumi ini adalah warisan dari Penjajah yang ingin mengkaburkan sejarah dan asal-usul turunan SI RAJA LAPUNG atau turunan Raja-Raja Sriwijaya yang agung itu... Maka janganlah jadi Katak Dalam Tempurung... Seolah-olah menjadi Raja penguasa jagad raya, padahal masih dalam sempitnya Tempurung... Sadar dan keluarlah dari kegelapan menuju jalan yg terang... Seterang arti kata SRIWIJAYA... # Resapi dan Sadari, Jangan diambil hati... Tabik... :)

Anonim mengatakan...

Salam hormat,

Buku The History of Sumatra Tidak Pernah Menyatakan Bahwa Skala Brak Adalah Asal Usul Bangsa Lampung

Beberapa pengamat asal Lampung Barat, yang sudah pasti mendukung teori Skala Brak sebagai asal usul bangsa Lampung sering menyertakan buku The History of Sumatra sebagai salah satu rujukannya. Tepatnya kalimatnya sebagai berikut :

"If you ask the people of these parts from whence they originally came they answer, from the hills, and point out an inland place near the great lake from whence they say their forefathers emigrated..."

Saya rasa kalimat tersebut tidak perlu saya terjemahkan, since you are an internet browser!

OK, setelah membaca kalimat tersebut memang tampak seolah masyarakat Lampung yang dimaksud mengatakan bahwa ia berasal dari tempat yang tinggi dengan danau yang besar. Namun benarkah buku tersebut mengatakan hal seperti itu?
Maka perkenankan saya untuk meluruskan apa yang dimaksud dalam buku karya William Marsden tersebut.
Untuk itu kita lihat kalimat yang lebih lengkap :

"It is probably within but a very few centuries that the south-west coast of this country has been the habitation of any considerable number of people; and it has been still less visited by strangers, owing to the unsheltered nature of the sea thereabouts, and want of soundings in general, which renders the navigation wild and dangerous for country vessels; and to the rivers being small and rapid, with shallow bars and almost ever a high surf. If you ask the people of these parts from whence they originally came they answer, from the hills, and point out an inland place near the great lake from whence they say their forefathers emigrated: and further than this it is impossible to trace".

Pembahasan :

the south-west coast of this country : Pantai/Pesisir Barat Daya dari negeri Lampung tentu Lampung Barat

less visited by strangers : kurang/jarang didatangi orang asing pendatang

unsheltered nature of the sea thereabouts : tentu yang dimaksud Samudera Hindia

ever a high surf : sungai yang dimaksud Way Besai

the people of these parts : orang-orang yang ditanya pada bagian Lampung Barat (sesuai deskripsi diatas)

it is impossible to trace : mustahil untuk dilacak kebenarannya

Dari penjabaran diatas, dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya buku tersebut tidak menyatakan bahwa asal usul bangsa Lampung dari Skala Brak. Namun itu hanya pengakuan dari masyarakat yang ada di wilayah pantai Barat / Barat daya dari negeri Lampung.

Mengenai bukti-bukti lain yang menyangkut Skala Brak, saya tidak berkompeten menjawabnya. Saya hanya meluruskan agar buku The History of Sumatra tidak dijadikan dasar klaim bahwa Skala Brak adalah asal usul bangsa Lampung. Sebab kalimat dalam buku tersebut sedang membahas masyarakat Lampung Barat, bukan Lampung seluruhnya.

Sekian.