Lambang Paksi Buay Pernong

Lambang Paksi Buay Pernong
Kijang Melipit Tebing

Skala Brak, Asal Muasal Orang Lampung

Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.

Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Senin, 29 Desember 2008

Lampung Satu



Wilayah Lampung memiliki akar historis yang panjang dan penting. Keberadaan masyarakat dan kebudayaan Lampung, sudah tercatat sejak abad ke 3-4 Masehi, dengan kebudayaan Animisme/Dinamisme. Kemudian pada periode berikutnya, jejak agama Hindu dan Budha hadir di Lampung, dianut oleh masyarakat dan kerajaan yang berdiri dan berjaya di Lampung. Setelah kejayaan Hindu/Budha, masuk agama Islam yang dibawa oleh para mujahid dari tanah Arab, dari dinasti Ummayad, sekali lagi Lampung menjadi tujuan awal perubahan peradaban. Para pendakwah Islam yang diundang oleh Kerajaan Sriwijaya Jambi, setelah berhasil membimbing raja Srindravarman untuk memeluk Islam dan mengubah nama kerajaannya menjadi Sribuza Islam, maka para pendakwah meneruskan perjalanan dakwahnya hingga ke Lampung.


Dari rentetan sejarah itu berarti Lampung memiliki peran strategis dalam mengawal perubahan peradaban di Indonesia. Oleh sebab itu menjadi tanggung jawab kita semua, warga Lampung untuk mengenal dan mencintai kebudayaan kita, kebudayaan nenek moyang kita, kebudayaan yang jelas benderang dalam lintasan sejarah Nusantara.
Untuk mewujudkan rasa cinta pada kebudayaan Lampung, dapat dilakukan dengan bebagai cara, salah satunya adalah menggali sejarah masa lalu dan menuliskannya dalam sebuah buku. Hal ini penting, karena meski sejarah Lampung amat bersinar, namun dalam sejarah bangsa Indonesia, sejarah Lampung amat sedikit yang bisa kita telusur. Hal itu disebabkan karena rendahnya tradisi teks pada masyarakat Lampung, sehingga sejarah dan budaya Lampung kurang menempati posisi penting dalam sejarah Nasional.

Oleh sebab itu upaya penerbitan buku, penulisan artikel di media massa, pembuatan blog budaya, dan segala hal yang dimungkinkan untuk menelusuri dan menginformasikan sejarah dan budaya Lampung, perlu diapresiasi positip. Kita berharap semakin banyak informasi tentang Lampung yang ditulis oleh para sejarawan dan budayawan Lampung, akan semakin memperjelas peran dan posisi Lampung dalam peradaban Indonesia. Dan yang lebih penting adalah agar masyarakat Lampung tidak kehilangan jati dirinya, karena tidak mengenal sejarah dan asal-usulnya.
Saya mengetahui dan membaca beberapa komunitas budaya dan adat di Lampung telah menerbitkan buku tentang komunitas mereka, hal itu merupakan langkah awal untuk melakukan penelitian dan pengkajian sejarah Lampung secara komprehensif. Saat ini begitu banyak sejarah ditulis berdasarkan cerita-cerita lisan, berdasar mitos-mitos, bukan berdasar kajian dan penelitian. Oleh sebab itu, saya berharap penulisan itu dapat ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian dan pengkajian lebih serius.

Meski banyak sejarah ditulis berdasar mitos, namun hal yang paling membanggakan adalah adanya spirit untuk menggali, dan menemukan jati diri dalam satu komunitas yang beradab. Artinya, kehadiran kita (orang Lampung) sebagai suatu bangsa, tidak tiba-tiba tapi merupakan rentetan sejarah yang panjang, hingga kemudian kita menemukan bentuk final, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di titik inilah penerbitan buku-buku itu menemukan peran strategisnya. Buku merupakan bagian penting sebagai bagian dari mata rantai dialog kebudayaan yang terus-menerus dilakukan. Dan saya mendorong agar semua pihak, sudi meneliti, mengkaji dan menuliskan sejarah dan kebudayaan masing-masing, dengan harapan terjadi klarifikasi dan ditemukan titik-titik persamaan diantara semua kebudayaan yang ada di Lampung.
Kita sama mafhum bahwa dalam segala keberagaman budaya ada benang merah yang kita yakini bersama, juga tertulis dalam kajian peneliti-peneliti Indonesia maupun asing, bahwa masyarakat Lampung berasal dari Sekala Brak, Gunung Pesagi. Pengakuan ini dapat dijadikan titik tolak penelitian untuk mengungkap fakta-fakta tentang Lampung di masa lalu. Dan pengakuan itu sekaligus menunjukkan, meski Lampung memiliki keragaman budaya, namun tetap satu : satu nenek moyang, satu asal, dan satu sejarah.

15 komentar:

Anonim mengatakan...

Ferly buay subing Says:
saya dari buay subing anak keratuan di puncak (minak rio begeduh) yg merupakan ratu tertua setelah ratu di pugung (minak rio pallang), ratu di belalaw(minak rio belunguh) dan ratu di pemanggilan(minak rio Sengaji) di sekala beghak...

tabik pun nabik tabik
gham hrs lurus di lem sejarah
ijo rasan mak lunik
awas katu dapek tullah

lain agow besaing
gham nyawoke sai lurus
weghen mato kucing
mak dapek cappang tikus

keratuan belalaw(minak rio belunguh) adalah keratuan yg diamanatkan oleh keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan…..untuk menjaga wilayah sekala beghak serta benda2 pusaka yang berupa pepadun dari lemasa kepappang, lunjuk dari pohon ara, bekasam siamang putih dalam gentong dan barang2 lainnya…..ketika tiga keratuan berencana hijrah ke daerah lain utk memperluas wilayah dengan menduduki wilayah baru...

Keratuan di belalaw menurunkan empat orang anak yang bernama :
1. Sai belunguh
2. Sai Teregak
3. Sai Murata
4. Sai Nyerupa….

jadi yang mana diantara keempat orang ini yg punya nama pernong…...?

dari keratuan dipuncak, keratuan di pugung dan keratuan di pemanggilan mengamanatkan wilayah dan barang2 pusaka kepada turunana ratu di belalaw(minak rio belunguh) yg anak tertuanya adalah Sai belunguh…..itu ditandai oleh sebuah gentong yg berisi bekasam dari siamang putih yg tdk boleh di buka selain keturunan empat keratuan ini berkumpul kembali di sekala behak……dan sebutann paksi hanya diberikan kepada para panglima perang...…yg posisinya di bawah keratuan/kedatu-an dan berada diatas hulu balang..keterangan sebagai berikut:

Ke-Datu-an/Ke-ratu-an :
1. Datu di Puncak(minak rio begeduh)
2. Datu di Pugung9minak rio palang)
3. Datu di Belalaw(minak rio belunguh)
4. Datu di Pemanggilan( minak rio sangaji)

empat kedatuan inilah asal muasal suku Lampung...

Paksi empat Tukket Pedang:
1. Appu kesaktian (panglima datu di puncak)
2. Appu kuasa (panglima datu di Pugung)
3. Appu Serata dilangit (panglima di belalaw)
5. Appu Pandek Sakti(panglima di pemanggilan)

hulu balang empat :
1. Sang putra lima
2. Sang pulagai
3. sang balai kuang
4. sang gariha

jadi itulah kedudukannya…..dalam sejarah sekala beghak....pada http//:paksipernong.com pada alinea 14 baris terakhir.. anda menuliskan bahwa seolah2 abung siwo migo yang beradat pepadun bukan orang lampung dan mengganggap dari suku lain....
apakah tidak takut kualat…...?

karena abung siwo migo turun dari datu/ratu dipuncak yg tertua dari 3 ratu/datu lainnya yaitu : datu di pugung, datu di belalaw dan datu di Pemanggilan…...dan adat istiadat lampung tidak mengenal kerajaan tapi Kepunyimbangan baik pepadun maupun sebatin…....
pepadun (singgasana padu) yg berarti sepakat adalah milik bersama 4 kedatuan yg di pakai untuk menobatkan para pemimpin dari masing2 kedatuan dan keturunannya... pemimpin bukan raja tapi penyimbang atau sebatin sebagai tetua pemegang adat yang dihormati...

silahkan kebuayan anda membuat adat sendiri dan kerajaan sendiri tapi jangan membelokkan sejarah dan membuang keturunan dari keratuan/kedatuan yang lain yang pernah ada di sekala beghak dengan mengatakan bahwa hanya kebuayan anda yg merupakan suku lampung asli dan yg lain bukan....

hati2 kualat…...
kualat dapat dalam bentuk bencana apapun...

sebentar lagi saudara2 kami dari turunan ratu/datu di pugung dan datu/ratu pemanggilan yang meliputi pubian telu suku (pesisir timur, tengah dan utara dan 5 sumbay way kanan akan menyusul mengomentari blog ini..

dari:
Abung siwo migo (nunnyai, unyi, nuban, subing, bulan, beliyuk, selagai, kunang dan anak tuho) turunan Datu/ratu di Puncak...

Anonim mengatakan...

Dalam buku The History of Sumatra karya The Secretary to the President and the Council of Port Marlborough Bengkulu William Marsdn 1779, diketahui asal-usul Penduduk Asli Lampung. Didalam bukunya William Marsdn mengungkapkan "If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…". "Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas.."
Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud danau tersebut ialah Danau Ranau. Mengenai penduduk yang mendiami Gunung Pesagi/Danau Ranau tsb. silahkan kunjungi: http://arkeologilampung.blogspot.com/2009/01/kota-lama-menggala-tulang-bawang-satu.html
yang dituturkan oleh seorang arkeolog (bukan cerita turun temurun)berdasarkan penemuan pecahan keramik abad ke-9 di beberapa situs sejarah di skala brak yang mengartikan bahwa daerah tsb. telah ditempati terlebih dahulu (kemungkinan besar orang ABUNG bukan Skala Brak) sebelum moyang dari pagaruyung (moyang skala brak) datang. Sedangkan kedatangan empat orang moyang skala brak dari pagaruyung (baru-baru ini di beberapa blog diubah menjadi 4 orang ulama dari "Samudra Pasai") menurut Oliver Sevin merupakan gelombang migrasi awal abad ke-14 pada masa pemerintahan Adityawarman. Keturunan Skala Brak memang benar ada, tetapi jangan langsung mengambil kesimpulan kalau Skala Berak merupakan cikal bakal orang lampung, menurut saya terlalu dini untuk mengambil keputusan yang belum jelas kebenarannya. Jika Keturunan Skla Brak merupakan keturunan Pagaruyung, bagaimana benang merahnya dengan masyarakat Pepadun??yang saya tahu adalah Keratuan di puncak yang menurunkan orang lampung sekarang, bukan orang pagaruyung, silahkan apabila masyarakat skala brak meng-amini bahwa kalian keturunan pagaruyung, silahkan membuat sejarah sendiri. Mengenai buay tertua di Tulang Bawang bukanlah Buay Bulan melainkan Buay Tegamo'an, dan Kerajaan Tulang Bawang punya silsilah dari dulu hingga sekarang, masih mengamalkan tradisi dan adat, tidak lenyap dari bumi lampung, masih ada keturunannya, masih ada peninggalan pusakanya.

Anonim mengatakan...

Sedikit memberikan referensi tentang Skala Brak sebagai asal usul orang lampung

1.Pada abad ke-berapakah kedatangan 4 umpu Skala Brak atau 4 ulama dari Pagaruyung yang meng-Islamkan "Buay Tumi" di Gunung Pesagi?perlu diketahui bahwa menurut Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ("Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina") yang ditulis oleh Tomé Pires pada tahun 1512-1515 mencatat dari ke-tiga raja Pagaruyung, hanya satu yang telah menjadi muslim sejak 15 tahun sebelumnya, dan Islam baru berkembang di pagaruyung kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan.

2.Apabila 4 umpu tersebut bukan berasal dari pagaruyung melainkan berasal dari Samudera Pasai,pada abad ke-berapakah Samudera Pasai berdiri? Kesultanan Samudera Pasai baru didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Malik al-Saleh pada sekitar tahun 1267 atau menurut keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh ,mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M).

Sekarang bagaimana dengan Tulang Bawang:
menurut History of Java-Nusantara http://www.scribd.com/doc/27818234/History-of-Java-Nusantara
menurut sejarahwan berdasarkan berita cina pada abad ke-5M (berarti kerajaan yang telah berdiri sebelum atau bertepatan dengan abad ke-5M) ada beberapa kerajaan kecil di Sumatera dan Jawa yaitu Tolomo (Tarumanegara),Topoteng(Galuh),Holing(Kalingga),Kantoli(Kendali/sebelum Sriwijaya ada),dan Tulang Pa Hwang yaitu Kerajaan Tulang Bawang di Lampung, jelas keliru sekali yang mengartikan Tulang Pa Hwang sebagai bahasa Hokkian yang merujuk kepada Skala Brak di Bukit Pesagi, dan di situ tidak menyebutkan adanya kerajaan kecil bernama "Skala Brak". Mengenai Buay Bulan/menggala yang berasal dari Paksi Pak Skala Brak mungkin saja benar, karena mungkin saja terjadi migrasi dari Skala Brak ke Tulang Bawang, yang jelas menurut saya Tuan Rio Mangkubumi yang menurunkan Minak Kemala Bumi yang menurunkan orang Pagardewa, Tuan Rio Tengah yang menurunkan orang menggala, dan Tuan Rio Sanak yang menurunkan orang Panaragan.

Anonim mengatakan...

Saudaraku berhentilah saling mengkalim sebagai yg tertua di bumi Lampung....!!! Sejarah hendaknya diurai secara seksama sesuai fase2nya. Kita semua tentu sepakat bahwa kita semuanya keturunan Nabi Adam AS yg hidup jazirah Arab lalu keturunannya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Awal mula manusia menginjakkan kaki di bumi Lampung tidak terlepas dari sejarah asal mula suku2 bangsa yg ada seluruh Indonesia. Menurut catatan sejarah ada dua gelombang besar perpindahan penduduk dari Hindia Belakang yg melakukan migrasi ke wilayah nusantara ini dan nenek moyang suku Lampung termasuk dalam gelombang pertama dari migrasi tersebut.
Penyebaran penduduk (keratuan2)di Lampung yang disebut2 berasal dari daerah Skala Bkhak mungkin ada benarnya mengingat ada pendapat yg mengatakan bahwa kata LAMPUNG berasal dari kata ANJAK LAMBUNG (Puncak Bukit Pesagi) atau daerah Skala Bkahak.
Akan tetapi bila kita berbicara tentang Skala Bekhak maka ada dua fase peradaban yakni Skala Bkhak pra Islam dan Skala Bkhak era Islam. Berdasarkan cerita turun temurun yg berkembang disertai bukti2 peninggalan sejarah yg tersebar didaerah Skala Bkhak bahwa pada masa pra Islam di daerah ini telah lama dihuni oleh manusia yg menganut paham Animisme Dinamisme. Selanjutnya berkembang tahap demi tahap menyebar keseluruh penjuru Lampung, dan ini terjadi jauh sebelum islam masuk sejalan dengan keberadaan Paksi Pak Skala Bekhak kelima buay nekhima era pra Islam.
Pakta sejarah menunjukkan bahwa para ulama pembawa Islam datang dari arah utara dan mendapati di daerah Skala Bkhak telah didiami oleh sekelompok Suku Tumi Lampung yang dipimpin oleh Uppu Sekekhummong (Raja Skala Bekhak pra Islam). Umpu Belunguh (diperkirakan bernama Serunting) datang dan berhasil meneyebrakan Islam di Skala Bekhak dengan terlebih dahulu mengalahkan pemimpin Suku Tumi Uppu Sekekhummmong.
Pada masa ini islam mulai berkembang seiring datangnya pengaruh Islam dari daerah Timur ( Banten) dan Fase ini bisa disebut sebagai Paksi Pak Skala Bkhak era Islam.
1. Buay Belunguh
2. Buay Kenyangan
3. Buay bujalan diway
4. Buay nyekhupa
Kebuayan2 ini terjadi dengan sendirinya dan dipimpin oleh Saibatin masing2 kebuayan dg wilayah dan masyarakat adat masing2. Akan tetapi Masa penjajahan yg panjang banyak mempengaruhi pola dan syitem pemerintahan demikian banyak pemutarbalikan fakta sejarah sesuai kepentingan penguasa.
Tulisan saudara Ferly buay Subing yg mengatakan Bahwa Keratuan dipuncak, keratuan dipugung dan keratuan dipemanggilan yg hijrah dari Skala Bkhak menuju daerah2 yg sekarang nyata menunjukkan bahwa daerah Skala Bkhak adalah daerah yg tertua didiami oleh manusia di dataran Lampung.
Adat Lampung menganut system patrilinier yaitu menuakan anak laki-laki sebagai penerus Kejuraian dan pewaris tahta kepemimpinan, maka hal yang mustahil dilakukan pada masa dahulu di Skala Bkhak seseorang yg tertua pergi merantau keluar, maka yg mudalah yg mungkin untuk hijrah keluar Skala Bkhak.
Namun demikian kita adalah saudara yg satu, Lampung milik dan kebanggaa kita bersama. Untuk itu mari bersama mengkaji sejarah kita dengan mengedepankan usaha2 pencarian kebenaran hakiki dari sejarah itu sendiri bukan.

dari :
Suttan Pasak Buay Sekekhummong
Pekon Kenali Lampung Barat
Paksi Pak Skala Bkhak Lampung

Anonim mengatakan...

Aslm, suttan pasak buay sekekhumong.. Tolong diinfokan silsilah buay tumi dan buay2 keturunannya.. Karena kami di lampung pesisir cukuhbalak, sebagian ktrn dr buay tumi.. Trmksh..

Zulpakor Oktoba M Bs say mengatakan...

Ass. Wr.wb Tabin pun jama para suttan2 & jama penyimbang adat dari berbagai kebuay...tlong diinformasikan juga sejarah asal usul buay tumi ...krn sebagian dari masyarakat dari pesisir cukuh balak, putih doh selimau, semaka, kota agung, dsb...blm paham benar akan asal mereka...sekian

Terima Kasih

Tabik pun ngalimpuro jika ada salah2 kata

Salam kemuakhian

Anonim mengatakan...

Jika dalam 100 tahun itu diperkirakan ada 4 generasi, dan SP yang sekarang merupakan generasi ke- 20 (1.Umpu Pernong ->2.Umpu Jadi->3.Umpu Semula Raja....-->18.Pangeran Suhaimi ->19.Maulana Balyan-->20.Pangeran Sah Pernong). Maka kedatangan 4 umpu tersebut diperkirakan sekitar abad ke-15. Sebelum 4 umpu itu datang sudah ada yang mendiami wilayah pesagi (bukan hanya buay tumi) sehingga 4 umpu tsb menurut saya merupakan pendatang. 4 Umpu tsb berasal dari Samudra Pasai yang hanya melewati pagaruyung sebab mereka telah memeluk Islam, mengapa cerita nenek moyang bisa berubah-ubah secepat itu?sebelumnya dikatakan 4 umpu tsb merupakan ulama sekaligus bangsawan pagaruyung, dan sudah menjadi cerita turun-temurun kalau Skala Brak erat kaitannya dengan Pagaruyung. Yang mana menurut saya hanya asimilasi dari hubungan perkawinan.

Si Jawa Ratu Majapahit, Si Lampung Ratu Baka,, apa benar demikian?ada situs kramat Ratu Boko di Jawa?Jangan asal klaim.

Selain TAMBO, apa ada yang menceritakan tentang Skala Brak alias Skala Bgha ?Saling menghormati dan menghargai yang lain jangan menganggap paling ningrat, kalau pun ada yang membeli gelar dan melakukan upacara adat, banyak nilai positifnya, yaitu melestarikan budaya, ada pula yang gelarnya turun temurun (bukan hanya Skala Brak). Biarlah yang membeli menjadi raja di keluarganya sendiri. Karena tak ada yang patut disembah dan diagung-agungkan selain Allah SWT. Di atas langit masih ada langit. Masih banyak yang lebih kuasa dan berpangkat.

Anonim mengatakan...

4 buay tua di skala brak kuno lampung: tumi, kenyangan, minanga dan jelma daya. Minanga turun dr skala brak ke komering sblm jaman sriwijaya. Jelma daya terun ke daerah ranau sampai muaradua kira2 jaman majapahit. Buay kenyangan (batu brak) dan tumi (kenali) msh di skala brak. Saat islam datang oleh umpu belunguh, buay tumi di pekon menguk bedudu dan belapau belalau diislamkan yg kmdn diknl dgn BUAY SEMENGUK.

Anonim mengatakan...

4 Ratu (puncak, pugung, balau dan pemanggilan) dan paksi pak skala brak di tambo jelas menyebutkan sebagai "pendatang".. Jadi mengenai adanya hbgn "lampung" sbg bagian krjaan SRIWIJAYA, tdk ada hbgn dgn "umpu2 pendatang" tsbt.. Ttp brhbgn dgn 4 buay tua di skala brak kuno : Tumi, kenyangan, jelmadaya dan minanga.. Jadi adanya nama RATU BOKO yg dikaitkan dgn nama lampung tsbt dapat kita ambil benang merah tntg penguasaan SRIWIJAYA thp jawa oleh dinasti SYAILENDRA dr sumatera.. Dan memang tak ada hbgn dgn umpu2 pendatang yg dtg sktr zaman majapahit atau stlh runtuhnya Sriwijaya.. Jadi mengapa kita tdk berfikir logis utk berusaha mencari bukti2 yg menguatkan bhwa "lampung adlh sriwijaya", pdhl krjaan tetangga kita mengait2kan nama lampung sbg sriwijaya.. Jadi yg perlu diubah adlh pola pikir dan analisis kita mengenai urutan sejarah lampung.. ANALOGI: suku mana yg pertama mendiami jakarta alias sunda kelapa? Jika jawabannya betawi itu salah.. (Krn betawi adlh mrpkn akulturasi bbrgai suku di indonesia dgn suku asli sunda sejak jaman islam..) Yg bener adlh sunda. Lalu kita tanya orang betawi mengenai krjaan "sunda galuh" atau "pajajaran", jls mrka tdk tahu dan bilang: sunda adlh sunda, betawi adlh betawi.. Bukan begitu..?? Coba hal yg sama kita tnyakan pd orang lampung skrg, mengenai sriwijaya.. Hal yg sama spti diatas pasti trjdi.. Yaitu: Betawi bknlah sunda, lampung bknlah komering.. ITULAH ORANG YG MENGETAHUI SEJARAH SETENGAH-SETENGAH SAJA..

Anonim mengatakan...

Sanak Tumban buway pemuka jak Sungkay. Sy setuju dgn saudara Ferly buway subing. Di Lampung gak ada raja tunggal, yg ada kepenyimbangan semuanya berbagi daerah kekuasaan yg di sebut keratuan/kedatuan. Mengenai adat pepapudun setau sy mereka gak jual beli gelar semua laki2 yg sudah menikah pasti mendapatkan gelar adat yg di ambil dari gelar kakek buyutnya masing2 sama dgn lampung komering. Bukankah cirinya org lampung punya juluk adok. Adapun org bisa ngambil gelar suttan itu harus memenuhi syarat2 adat yg tdk semua org bisa. Dan setelah mendapat gelar sutan bukan berarti dia langsung jadi raja, tdk wakhi! Dia hanya jadi org yg di tuakan dlm keluarga/suku adatnya. Beda dgn sai batin kalau bukan keturan penyimbangnya dia tdk berhak mendapatkan adok. Pertanyaan saya ulah api sai batin keturunan penyimbangngni gawoh sai dacok ngedok gelar adok sementakha sai mak ngedok ketukhunan mak dikeni juluk adok?? Trus kenapa abung dan komering semua laki2 dan perempuan yg sudah menikah pasti punya Adok? Bukankah cikhini ulun lampung ngedok juluk adok. Itulah yg membedakan ulun lampung dgn suku2 lain di indonesia. Pelajakhilah sejarah dgn benar kalaupun mau mengankat kebuway an jgn langsung mengklaim buway sayalah cikal bakal suku lampung. Ingat sebelum 4 penyebar agama Allah dari aceh datang ke lampung sekala bekhak memang sudah d tunggu suku Ulun/ TUMI. Dan sudah ada urutan keturunannya (kebhuwaiannya). Jd hati2 kalau mengatas namakan keseluruhan masyarakat lampung berasal dari bhuway pernong. Cobalah undang seluruh suku tumi dan satukan kembali keluarga kita yg sudah pecah belah. Coba liat saudara kita di komering kenapa mereka gak mau di sebut Lampung?? Cari tahu apa masalahnya dan ajak mereka bicara. Mengenai cikoneng mereka adalah balatentara yg di kirim Radin Intan utk membantu kesultananan Banten. Mereka berasal dari kalianda, jabung, gunung raya, gunung sugih. Makanya bahasa cikoneng dialek api campur dialek nyo. Tanyakan dgn keratuan darah putih mereka masih ada kok, kratuan darah putih masih exsis sampai sekarang. Dan tanyakan dgn masyarakat lampung mulai dari kalianda, jabung, sampai pungung metro mereka yg tau sejarah lampung cikoneng. Bukannya seperti wewarahan sibuyuk persi buway pernong. Khena gawoh komen jak ikam, tabik ni pai jama buway pernong lain ni maksud ikam haga nyinggung perasaan kuti, tapi hinji hanya sebagai bahan renungan kham gawoh. Salam kmuakhian dan seangkonan jak ikam.

Anonim mengatakan...

Benokh puakhi, sikam juga di Lampung Peminggikh Pemanggilan (Mulai Jak Kuta Agung, Cukuhbalak, waylima, padangcermin khek Teluk betung).. Mak ngedok sai gelakh ne Buay Pernong, Nyerupa, Belunguh khek Bejalan diway).. Sai wat adalah buay bulan, menyata, aji,benawang, semenguk, setungau, sehujan, liyoh khek sai bakhih ni)... Ki ditarik mit atas ketemu di keratuan buay tumi (Sekala Berak sebelum islam).. ki di kuta agung wat gelakh belunguh, benawang (Sai isi ne keturunan paksi pak), wai nipah dan ngarip, sebenokh ni tian ji keturunan paksi pak sai jadi mantu di Keratuan Teluk Semaka... Ulih lamon ne tumbai ketukhunan sai batin ne anak tuha ne bebai.. Adek bakas ne (Laki-laki tertua) lapah ngendikhi ko pekon sumang mit arah timur/tenggara jak teluk semaka..

Mengenai khua adat di Lampung (sai Batin khek Pepadun) kham patut besokokh ulih perbedaan itu indah.. Yang penting kham saling menghormati khek saling ngedukung.. Salam Kemuakhian Jak Puakhi Saka Peminggikh Pemanggilan...

Anonim mengatakan...

tabik2 jama pusikam sai tuha2, sejarah adat istiadat ram jaga jama2, masalah keturunan sapa sai tuha atau sai jadi asal muasal mak penting ga gham bahas, sai penting persatuan gham jelma lampung harus dipertahanko.
nah gawoh ganta nayah pekon gham lampung diserang hulun sai pekon bareh hening gawoh, sa bukti gham kurang bersatu membangun lampung.
mahaf amun wat kata sai salah.
negara batin>>>,,,

Anonim mengatakan...

Saya dari salah satu Kebuwayan Unyi Gunung Sugih Baru, juga setuju atas pendapat saudara Ferly Buay subing tentang silsilah 4 ke-Datuan beserta silsilah keturunnya, 4 Paksi dan 4 Hulubalang.

Juga sependapat tentang barang-barang yang dititipkan seperti pepadun dari kayu lemasa kepappang, bekasam siamang putih dll.

Jika ditinjau dari sisi penempatan ibukota kabupaten, maka dahulu Kotabumi mambawahi wilayah Tulang Bawang, Lampung Barat, dan Kabupaten Way Kanan.
Jika Lampung Barat lebih tua sudah pasti Lampung Barat akan menjadi Ibukota Kabupaten, dan orang-orang Kotabumi tidak akan protes,...itu saya jamin 100%.. Tetapi mengapa Kotabumi yang menjadi Ibukota Kabupaten ???

Juga saya mengusulkan kepada Paksi Buay Pernong dan (jika ada) Paksi-paksi lain di Lampung Barat agar berkoordinasi dengan tokoh tokoh adat khususnya di Kotabumi, di mana sepengetahuan saya masih ada keturunan Nunyai.

Terimakasih. Salam ...

SALIWA mengatakan...

1. Perbedaan nama dalam kurun waktu dan catata itu bisa saja terjadi. tokohnya tetap ada.

2. Dilampung tidak ada satu Raja Lampung, yang ada hanyalah Raja Di Lampung. dari kerajaan apa, itu keterangannya.

3. To Lang PohWang adalah benar bahasa hokian, dan memiliki arti orang dari ketinggian, mengapa pula kita meniadakanarti tersebut padaha orang hokian memang memiliki bahasa ttng itu. Gunung tertinggi di lampung adalah PESAGI.

4. fasenya menurut catatan tambo adalah - kerajaan sekala brak kuno( sd hindu bhairawa )dalam batu tulis disebut pernah dipimpin raja Punku Aji Shri Haradewa dan hingga Sekerumong - Zaman Islam Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak / Belunguh/ Pernong/ Nyerupa/ Jln Diway - Zaman Penjajahan dipecah belah menjadi marga2 - zaman kemerdekaan sekarang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak .

5. Penyebaran ulamanya dari Utara ( Pasai - pagaruyung - muko2 - Sekala Brak )

6. Bedakan Tulisan yang hanya tertulis baru sekehendak penulis (dongeng) dengan tulisan yg dahulu ditulis dng kulit kayu (tambo).

7. Adat tradisi, Ratusan pusaka, Lembaran2 tambo kulit kayu, kepingan piagam tembaga, batu bertulis, Tulisan Di tanduk dan kulit binatang, Makam2 Keramat DLL adalah bukti Eksistensi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yg masih dijaga.

8. banyak saat ini kelompok2 kecil yang menyebar menyerupa mnjadi sebuah buay di akui menjadi marga oleh belanda dan hidup hingga saat ini. nama2 biasa juga akhirnya berjuluk ratu dll. semua kenyaaan yg terjadi.

9. Kerajaan itu Ada Tahta (stuktur pemerintahan adat, Ada Rakyat masyarakat adat atau JAMMA, Ada Pula Wilayah Adat / Ulayat. sepertihalnya paksi pak sekala brak yang masih menjaga kelengkapan itu. tak lekang oleh penjajahan apapun.

Anonim mengatakan...

saliwa, ente itu siapa? kerabat kandung kerajaan juga bukan. Dimana-mana ente bekoar koar banga-banggain Skala Brak, ane setuju ente perjuangin budaya lampung tapi jangan bekoar koar juga rendahin orang pepadun, emang ente itu siapa??jabatan ente apa?? mendingan ente bantuin lanjutin cerita dongeng dari skala brak yang dah terbit tanpa ngerendahin buay lampung yg laen